Cinta tak ubahnya seperti pohon yang tak selamanya terlihat segar. Daun-daun yang dulu hijau cerah mulai menguning, akhirnya coklat kaku. Bunga-bunganya yang pernah indah merekah… kini layu. …Beberapa ujung tangkai pun mulai tampak mengering. Begitulah hidup. Tak ada yang tetap dalam hidup. Semuanya dinamis: bergerak dan berubah, tumbuh dan menyusut, berkembang dan tumbang. Apa pun dan siapa pun. Termasuk, cinta suami isteri. Setidaknya, itulah yang kini dialami banyak kaum ibu. mereka merasakan ada yang berkurang dari suaminya. Tidak seperti dulu ketika anak masih satu, dua, hingga tiga. Apalagi ketika belum ada anak. Wah, terlalu jauh perbandingannya. Saat dulu, para suami tak pernah ketinggalan telepon ke rumah sebelum pulang kantor. Bahkan, sehari bisa tiga kali telepon. Kini, seminggu dua kali sudah teramat bagus. Itu pun karena ada yang mau ditanyakan. Dulu, kemana pun sang istri pergi, suami selalu antar jemput. Paling tidak, mewanti-wanti agar ia berhati-hati. “Hati-hati, ya Dik. ucap suami dengan penuh perhatian. Kini, menanyakan tujuan pergi pun sudah sangat bagus. Dulu juga, suami kerap ngasih hadiah di hari-hari bersejarah. Di antaranya, hari kelahiran, dan tanggal pernikahan. Kini, jangankan hadiah, ingat dengan momen itu saja sudah bagus. Kalau cinta dihubung-hubungkan dengan rupa, kenyataan itu mungkin bisa diterima. Sekarang… memang bukan dua puluh tahun yg lalu…. Banyak perubahan, . Tapi, mestikah cinta dan perhatian harus menyusut sebagaimana berkerutnya wajah dan tidak langsingnya tubuh. Apa layak itu jadi alasan. Bukankah cinta terlihat dari pandangan mata hati. Bukan dari simbol-simbol fisik yang terlihat dari pandangan mata, yang bisa menyilaukan ketika ada cahaya dan buram di saat gelap…. Bukankah cinta perpaduan dari senang, kagum, cocok, sayang. Bahkan, kasihan. Tidak jarang, cinta tumbuh pesat dari akar kasihan. Bukan hal aneh jika seorang pemuda langsung melamar muslimah yang terusir dari rumahnya lantaran mengenakan busana muslimah. Ada juga muslimah yang dilamar lantaran statusnya sebagai anak yatim miskin. Lalu, kenapa cinta suami bisa menyusut. Bukankah ini sebuah bukti bahwa adakalanya cinta tersangkut pada rupa. Menjamin lestarinya kasih sayang memang bukan perkara mudah. Dan, lebih tidak mudah lagi menjamin bahwa kecantikan rupa tidak akan bergeser. Karena sudah kepastian Allah bahwa muda akan menapaki anak tangga usia menuju tua. Semakin banyak anak tangga yang ditapaki, makin berkurang nilai rupa. Harus ada langkah bersama supaya cinta tetap terawat. Memang, kehangatan cinta bisa lahir dari stabilnya nilai rupa. Tapi, unsur emosi pun punya andil yang lumayan besar. Kalau cinta cuma berpatok pada langgengnya rupa, mungkin rumah tangga kakek nenek akan bubar massal. Di sinilah seninya bagaimana suami isteri bisa memainkan emosi sehingga cinta menjadi indah untuk dinikmati. Kepiawaian mengelola emosi juga mampu menjadikan cinta lestari. Bayangkan, betapa jauhnya jarak usia antara Rosulullah saw dengan Aisyah:. Belum lagi kesenjangan intelektual dan rupa. Tapi, semua itu tidak jadi masalah lantaran irama emosinya begitu rapi dan indah. Rosulullah tidak perlu ragu berlomba lari bersama isterinya, mengecup kening isteri saat pergi ke masjid, bersenda gurau layaknya teman, berdiskusi layaknya guru dan murid, dan sebagainya. Justru, unsur emosilah yang kadang dominan dari nilai rupa.. Cinta memang tak ubahnya seperti pohon yang tidak selamanya segar. Karena pohon memang tidak akan pernah kokoh kalau hanya dinikmati kesejukan, keindahan, dan buahnya. Ia juga butuh siraman air, kesuburan tanah, dan pagar perlindungan. Jadi….sebagai suami, sudahkah kita menteladani Rosulullah,
Baca selanjutnya ..on line
Senin, 15 Oktober 2012
Jumat, 12 Oktober 2012
SUDAH BERSYUKURKAH KITA?
SUATU ketika malaikat Jibril diperintah oleh Allah untuk bertanya kepada kerbau, apakah ia senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor kerbau. Maka pergilah Jibril menemui kerbau yang ketika itu sedang berenang di sebuah sungai di bawah teriknya sinar matahari. “Hai Kerbau, apakah engkau senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor kerbau?” Si Kerbau menjawab, “Masya Allah, Alhamdulillâhsaya senang dan bahagia sekali diciptakan Allah menjadi seekor kerbau, sehingga saya bisa berenang di air sungai seperti ini, daripada aku diciptakan sebagai seekor kelelawar yang mandi dengan air kencingnya sendiri.” Kemudian, malaikat Jibril pun berangkat menemui kelelewar dan menanyakan apakah dia senang dan bahagia diciptakan sebagai kelelawar. “Hai kelelawar, apakah kamu senang telah dijadikan Allah sebagai seekor kelelawar?” “Masya Allah, Alhamdulillâh, saya sangat senang dan bahagia diciptakan menjadi kelelawar, dengan sayap yang diberikan Allah saya bisa terbang ke mana saja dalam waktu yang singkat dan cepat, daripada saya diciptakan-Nya sebagai seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perut,” jawab kelelawar. Malaikat Jibril bergegas pergi menemui cacing yang tengah merayap di atas tanah. Jibril bertanya, “Wahai cacing kecil, apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor cacing?” Cacing menjawab, “Masya Allah, Alhamdulillâh, saya sangat senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor cacing, daripada dijadikan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramak shaleh, ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya.” Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan, dan masih banyak lainnya. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur. Syukur berarti merasa berbahagia dengan limpahan nikmat yang menjadi jembatan melaksanakan ketaatan di jalan Allah. Syukur juga berarti memperbanyak menebar puji-puji kepada Ilahi Rabbi, dengan lisan maupun hati. Seperti celoteh kerbau, kelelawar, dan cacing kala mendapat pertanyaan Jibril, seperti itulah seharusnya pernik-pernik nikmat Allah kita bingkai dengan kalimat hamdalah dan berbaik sangka bahwa apa yang telah dipilihkan Allah selalu yang terbaik untuk kita. Mari kita bersyukur Alhamdulillah kala kita punya banyak anak, mungkin tetangga kita yang telah menikah belasan tahun justru tak kunjung diberi momongan. Mari kita bersyukur, Alhamdulillah, jika ada dari kita belum mempunyai anak padahal segala usaha sudah dilakukan. Tetap bersyukur secara berujar, “Masya Allah, Alhamdulillah, saya belum dikaruniai anak sehingga saya bisa lebih memiliki waktu luang, tenaga, dan materi untuk membantu saudara-saudara saya.” Mari kita bersyukur secara berucap dengan lisan yang fasih, Alhamdulillah, meski ada dari kita yang belum menikah atau menemukan jodohnya. Tetaplah bersyukur. “Masya Allah, Alhamdulillah, bahagianya saya walaupun belum menikah. Saya bisa belajar lebih banyak mempersiapkan diri untuk kehidupan berkeluarga nanti. Saya juga punya waktu luang untuk berbakti kepada orangtua. Kalau sudah menikah, mungkin saya harus berbagi waktu, tenaga, dan pikiran untuk keluarga dan orangtua. Masya Allah, Alhamdulillah!” Sekarang, mari kita bertanya dengan pertanyaan yang sederhana saja. “Apakah kita, selama ini, menjadi bahagia karena besyukur ataukah kita menjadi orang yang bersyukur karena kita bahagia?” “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).*
Baca selanjutnya ..Senin, 01 Oktober 2012
INSYA ALLAH
Ungkapan 'insya Allah' bukan hal yang asing bagi kita umat Islam, dan ucapan tersebut termasuk salah satu kalimat thoyyibah, yaitu kalimat yang baik untuk diamalkan. Di lain pihak, kalimat yang mengandung do'a dan pengharapan tersebut, oleh sebagian besar masyarakat kita belum dapat dipahami makna dan urgensinya secara benar. 'Insya Allah' yang memiliki arti “jika Allah menghendaki” seringkali disalah-tempatkan dalam penggunaannya, hanya karena lantaran kita merasa sebagai orang yang berbudaya timur, yang tidak pantas untuk berkata tidak. Sebagai contoh, ketika kita diajak atau diundang untuk suatu kegiatan, kita cenderung untuk mengatakan 'insya Allah', padahal kita sudah mengetahui sejak awal bahwa kita tidak dapat memenuhi ajakan atau undangan tersebut dengan alasan tertentu. Terkadang kita terlalu optimis akan dapat melakukan sesuatu hal dan merasa yakin untuk dapat memberikan hasil atau kontribusi yang telah dijanjikan, namun bagi orang yang beriman seharusnya tidak melupakan dan tidak merasa aman dari rekayasa Allah ('adamul amni min makrillah) Nabi Muhammad Saw pernah ditegur oleh Allah SWT ketika beliau terlupa mengucapkan kalimat 'insya Allah' sewaktu Nabi berdialog dengan utusan dari suku Quraisy yang bernama An Nadhar bin Al Harits dan 'Uqbah bin Abi Mu'ith. Mereka bertanya kepada Nabi tentang kisah Ashabul Kahfi, Zulkarnain dan roh, lalu beliau menjawab “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu”. Sampai batas waktu yang dijanjikan, Allah belum menurunkan wahyu untuk menanggapi ketiga pertanyaan tersebut, sehingga Nabi tidak dapat menjawabnya. Setelah lima belas hari berlalu, barulah Allah menurunkan ayat yang menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Teguran Allah tersebut diabadikan dalam QS Al Kahfi [18]: 23-24. “Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku, agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) dari pada ini.” Bukhari Muslim meriwayatkan, suatu hari Nabi Sulaiman as berkata, “Malam in aku akan menyetubuhi 60 atau 70 istriku sehingga mereka hamil. Lalu, setiap istriku akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi penunggang kuda mujahid fisabilillah.” Namun nabi Sulaiman as lupa mengucapkan 'insya Allah.' Malam itu Nabi Sulaiman as berhasil menyetubuhi 60 atau 70 istrinya, tetapi yang hamil hanya salah satu istrinya saja. Dan saat melahirkan, kondisi fisik anaknya tidak sempurna. Rasulullah Saw bersabda, “Kalau saja Nabi Sulaiman as mengucapkan insya Allah, niscaya mereka akan berjihad di jalan Allah sebagai penunggang kuda semuanya.” (HR Bukhari Muslim). Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan,“Semua wanita itu akan hamil (dan melahirkan) putra yang berjihad di jalan Allah.” Alquran mengabadikan beberapa pelajaran tentang penggunaan kalimat 'insya Allah' yang dapat kita ambil hikmahnya. Di antaranya, dialog yang sangat santun antara seorang ayah dengan putranya. Ibrahim as. berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu?” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As Shaffat [37]: 102). Wallahu a'lam bish shawab
Baca selanjutnya ..Rabu, 19 September 2012
PAHALA KETIKA BERBICARA
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya. Semua kata yang keluar dari lisan seorang muslim seharusnya punya konsekuensi yang lebih besar dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ini disebabkan seorang muslim berbicara diawali dengan pemahaman atas apa yang dia bicarakan dan pemahaman atas konsekuensi-konsekuensi dari apa yang dia bicarakan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Pemahaman atas apa yang dia bicarakan membuat seorang muslim tidak bicara seenaknya sendiri. Ilmu menjadi dasarnya, baik ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal, bahkan ilmu dari pengalaman hidup sekalipun. Pemahaman terhadap ilmu ini akan membuat seorang muslim bisa bijaksana memilah kata-kata yang tepat, sesuai dengan latar belakang dan kecenderungan orang yang diajak bicara. Pengetahuan tentang konsekuensi atas apa yang dia bicarakan pun akan mendorong seorang muslim untuk menjaga lisannya agar hanya mengeluarkan kata-kata terbaik yang mengandung kemanfaataan dan keselamatan bagi orang lain. Bukan sekedar kata-kata basa-basi dengan harapan mendapat decak kagum dari orang lain. Bukan juga kalimat-kalimat manis yang diluncurkan hanya untuk tujuan-tujuan dan kepentingan pribadi, tanpa ada nilai manfaatnya bagi orang lain. Dalam beberapa hal, ini masih bisa ditolerir pada batas-batas tertentu. Namun bila kemudian menjadi kebiasaan yang berkepanjangan dikhawatirkan bisa menjerumuskan kita pada kata-kata dusta tanpa kita sadari, hanya untuk tujuan ini; tujuan pengakuan dari orang lain. Sungguh, sebuah kebohongan yang kita ucapkan sekali, dan kemudian kita ulangi kedua kali bahkan sampai ketiga kalinya tanpa adanya penyesalan akan menjadikan kita terbiasa olehnya. Satu kata kebaikan yang keluar dari lisan seorang muslim pun punya konsekuensi bahwa dialah orang pertama yang melaksanakan kata-katanya tersebut. Apa pun kata-kata itu; diucapkan langsung ataupun dalam bentuk tulisan. Bukan suatu yang mudah memang. Kadang tuntutan ini membuat kita jadi takut mengajak orang lain pada kebenaran. Akhirnya kita lebih memilih diam. Padahal satu kebaikan yang kita sebarkan melalui kata-kata kita, kemudian orang lain ikut melaksanakan, maka pahalanya akan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya sedikit pun. Apalagi jika kebaikan itu terus menyebar dan dilaksanakan oleh banyak orang, terus dan terus. Begitu murahnya Allah memberikan balasan berlipat-lipat atas kebaikan yang telah kita ucapkan kepada orang lain, walau itu hanya sepatah kata. Jika kemudian Allah juga menuntut kita untuk melaksanakan kata-kata kita, itu bukan bermaksud untuk memberatkan, tapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa apa pun yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Berbicara untuk kebaikan dan kemanfaatan akan mudah kita lakukan jika ini sudah menjadi kebiasaan.Tanpa diatur terlebih dahulu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Mudah dan ringan. Tentu saja bagi yang belum terbiasa harus memformat awal semua kebaikan di dalam kepala dan hati kita, kemudian kita ingatkan diri kita untuk mengulanginya kembali, melaksanakan sedikit demi sedikit apa yang kita mampu, berulang-ulang, sampai kemudian menjadi kebiasaan yang keluar secara otomatis. Yang jelas memang butuh waktu dan proses. Dengan demikian gagasan-gagasan dan emosi yang tersimpan di kepala dan hati bisa kita keluarkan dengan lebih baik, tanpa menimbulkan kesia-siaan bagi diri kita juga bagi orang lain. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sangat besar kemurkaan Allah atas apa yang kamu katakan tapi tidak kamu perbuat.” (ash shaff : 2-3). Wallahu a’lam
Baca selanjutnya ..Kamis, 06 September 2012
Halalbihalal 2
Ini adalah tulisan Halalbihalal(nulisnya hrs gandeng/sesuai bhs yg benar) yang kedua bagi saya. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri dan Halalbihalal bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan; saling terkait mempercantik nuansa masing-masing. Saling memaafkan dan menyambung tali silaturrahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam. Setiap saat kaum Muslim harus mengindahkan ajaran ini tanpa memandang hari dan momen tertentu. Jadi tidak terbatas saat Idul Fitri saja. Bahkan secara tegas Allah Swt. akan melaknat orang yang memutuskan tali persaudaraan (QS. Muhammad: 22-23). Rasulullah juga menyabdakan yang artinya, "Tidak ada dosa yang pelakunya lebih layak untuk disegerakan hukumannya di dunia dan di akhirat daripada berbuat zalim dan memutuskan tali persaudaraan." (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi). Betapa pentingnya memelihara hubungan persaudaraan agar tidak kusut, sampai-sampai Allah dan Rasul-Nya menegaskan laknat besar sebagai ganjaran bagi pemutus tali silaturrahmi. Bahkan urgensitasnya tampak begitu jelas manakala memelihara silaturrahmi ini dikaitkan dengan keimanan seorang Muslim. Seperti dalam hadits, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka sambunglah tali silaturrahmi." (HR. Al-Bukhari). Kegiatan ini juga sangat banyak nilai positifnya bagi kehidupan duniawi. Rasulullah menyabdakan, "Siapa saja yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan pengaruhnya, maka sambunglah tali persaudaraan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Halalbihalal menjadi momen yang sangat tepat untuk memperbaharui dan mempererat persaudaraan. Aktivitas manusia yang begitu sibuk, bahkan sering mengharuskannya jauh dari kerabat, sangatlah membutuhkan suasana Halalbihalal. Paling tidak agar acara tahunan itu benar-benar menjadi perhatian khusus untuk ber-silaturrahmi dan saling memafkan bagi semua pihak. Ketimbang jikalau tidak ada acara tahunan seperti itu, mungkin kesibukan akan meleburkan perhatian mereka akan pentingnya ber-silaturrahmi. Saling maaf-memaafkan pada saat Idul Fitri dan Halalbihalal bukan berarti mengkhususkan maaf hanya pada momen itu saja. Terlebih dikatakan sebagai menambah-nambahi syariat (bid'ah). Yang terpenting adalah Muslimin meyakini bahwa saling memaafkan tidak memiliki batas waktu. Karena, jika sampai meyakini bahwa memaafkan dan silaturrahmi hanya berlaku saat Idul Fitri atau Halalbihalal saja, itulah yang salah secara syariat. Halalbihalal adalah salah satu bukti keluwesan ajaran Islam dalam implementasi nilai-nilai universalnya. Nilai universal silaturrahmi yang diajarkan bisa menjelma menjadi beragam acara sesuai dengan kearifan lokal masing-masing daerah, dengan catatan tetap mengindahkan norma-norma Islam yang sudah ditentukan. Maka tidak boleh tercampuri kemaksiatan apa pun dalam implementasinya. Setelah manusia berbuat baik kepada Allah dengan berpuasa sebulan penuh; mengabdikan diri kepada-Nya. Maka pada momen Idul Fitri dan Halalbihalal, giliran mereka meneguhkan kesadaran persaudaraan antar sesama dengan saling memafkan dan berbagi keceriaan. Aktivitas ini sangat indah sebagaimana diisyaratkan surat al-Hajj ayat 77, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan supaya kamu mendapat kemenangan." Dan surat al-A'raf ayat 199, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Maka, Halalbihalal meskipun asli kelahiran Indonesia, namun esensinya tetap Islami.Wallahua’lam bish-shawab.
Baca selanjutnya ..Rabu, 05 September 2012
Undangan Halalbihalal
Undangam Temu Warga Perumahan Griya Citra Asri, RT.06 RW.01 Kelurahan Beringin – Sambikerep Surabaya, Kepada : Bapak / Ibu / Segenap Warga RT06 / RW 1, Assalamu'alaikum Wr. Wb, Rasa syukur mari kita haturkan kehadirat Allah SWT atas berbagai nikmat yang di limpahkan kepada kita semua, Salah satunya adalah kesempatan bersilaturrahmi. Oleh sebab itu sebagai sarana agar kita semua bisa berjabat-tangan dan saling Ber Ma’afan atas kesalahan yang telah berlalu, dengan ini kami mengundang Segenap warga untuk menghadiri acara Silaturrahim dan Halalbihalal. Yang Insya Allah akan di adakan pada, Hari : Sabtu Tanggal : 08 September 2012 Waktu : 19.30 Acara : Temu Warga dan Silaturrahim Tempat : Gang Tengah Depan RM 30-RM 31 Demikian undangan ini kami haturkan, Taqobalallahu minna waminkum Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pahala disetiap langkah menuju Majelis yang di Rahmati Allah SWT, Amin ya Robbal Alamin. Jazakumullah Khoiron Katsiiro Wassalamu'alaikum Wr. Wb Hormat kami, Administrator RT Darmanto
Baca selanjutnya ..Minggu, 02 September 2012
BAHAN RENUNGAN
RAMADHAN tahun ini baru saja berlalu. Hari-hari di bulan Syawal sedang kita lalui. Sungguh beruntung orang-orang mukmin yang hari-harinya bersama Ramadhan. Ia merasakan dekapan Ramadhan dalam malam-malam yang penuh kesyahduan. Larut dalam untaian tilawah Alquran, berdzikir dalam khusyuknya salat malam. Kegersangan spritual ia isi dengan sungguh dalam beribadah sebagai tanda keinsafan. Ada sebuah kesadaran yang mencuat dari lubuk hati yang dalam, bahwa tidak ada jaminan untuk bersua dengan Ramadhan tahun depan. Jujur saja. Banyak perubahan yang dirasakan oleh kita selama bulan Ramadhan. Tiba-tiba secara pribadi tingkat kesolehan kita meningkat. Berbagai bentuk ibadah, seperti shalat malam (tarawih), tilawah Al-Quran, sedekah, dan mendatangi masjid atau mushalla begitu mudah untuk dilakukan. Ucapan dan tutur kata dijaga. Sikap malu untuk berbuat maksiat begitu terasa. Namun, pertanyaan menyeruak kepermukaan. Apakah ini tanda keinsafan kita atau malah menegaskan sikap kita yang aji mumpung? Di mana segala sesuatu diukur dari aji mumpung dan memanfaatkan apa yang sedang ada di depan mata. Bagi pedagang, Ramadhan adalah lembaran uang dari kepentingan bisnis dan ekonomi. Bagi pejabat, Ramadhan adalah ajang publikasi diri dan tebar pesona dengan balutan aneka bantuan untuk yang miskin. Bagi yang miskin, Ramadhan menggiatkan diri untuk meminta-minta belas kasihan kepada sang pemberi. Dan, Ramadhan hanya dijadikan singgah pertobatan yang menutup segala kemunafikan diri. Masihkah Ramadhan dengan nilai-nilai keutamaannya bersama kita? Pertanyaan ini sederhana, namun butuh tanggung jawab besar. Untuk itu, mari kita renungi apa apa yang sudah kita lakukan selepas Romadhon kita lihat di sekeliling kita Musholla sudah mulai di tinggalkan,Masjid terdekatpun berada dalam penantian imam dan jama’ah Mari kita renungkan dan telaah diri,sudahkah Romadhon tetap menginspirasi kita dalam ibadah se hari-hari. Semoga kita masih di beri kesempatan menikmati Romadhon selanjutnya,Amiiin
Baca selanjutnya ..