on line

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Muslim. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

QURAISH SHIHAB MENJAWAB

Dr. Quraish Shihab Menjawab * Hukumnya puasa bagi pekerja kuli bangunan/pelabuhan, yang karena capek sering tidak puasa? * Hukumnya sedang berpuasa memasukkan obat melalui mata, telinga, dan dubur (obat ambeien)? * Ramadhan lalu berhutang puasa. Haruskah diganti dua kali lipat, adakah hadis/keterangan mengenai hal tersebut? * Mens tidak rutin. Sehari kering, sehari kemudian keluar lagi. Dalam keadaan demikian, bagaimana berpuasa? * Sebelum puasa disuntik KB. Bulan Puasa ini saya tidak haidh, tapi keluar flek-flek hitam. Batalkah puasa saya? * Dalam sebuah riwayat, Rasul tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Apakah riwayat itu benar dan bagaimana sekarang ini banyak ulama, ustad, dan kyai yang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram? * Saya biasa salat malam sekitar pukul 02:30. Kebiasaan itu berlanjut dalam bulan Ramadhan ini. Bagaimana niat saya ketika mendirikan salat pada jam tersebut, niat tarawih atau tahajud? * Bagaimana cara zakatnya orang yang berhutang kepada bank? * Kapan tepatnya malam lailatul qadr, apa khasiat (keistimewaannya) dan bagaimana cara mendapatkannya? * Mana yang harus didahulukan puasa Syawal atau membayar utang puasa Ramadhan? * Bolehkah itikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan dilakukan di rumah, atau apakah harus di masjid? * Apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut mulai dua Syawal, atau bagaimana seharusnya? * Dokter menganjurkan orangtua saya yang baru dioperasi agar tidak berpuasa. Apakah dengan demikian orangtua saya cukup membayar fidyah atau mengganti puasa di lain waktu? Bagaimana pahala salat tarawihnya karena beliau tidak puasa? * Apakah yang lebih utama salat tarawih delapan rakaat atau 20 rakaat? Adakah keterangan yang menjelaskan keduanya? * Hukumnya mendengar orang yang sedang bergunjing? Apa tandanya orang yang mendapat lailatul qadr? * Kalau di bulan puasa main kartu remi pakai uang monopoli, dosa tidak? * Apa dasarnya melaksanakan salat witir tiga rakaat dengan dua salam? * Mana yang benar mengirim doa atau mendoakan yang sudah meninggal? Saya tidak pernah berziarah ke makam Bapak/Ibu, dosakah saya? -------------------------------------------------------------- 1. Bagaimana hukumnya puasa bagi pekerja kuli bangunan/pelabuhan, yang karena capek sering tidak puasa? (HARYADI, Jl.Raya KKO Cilandak Gg.depot S Jakarta Selatan) Mereka dapat tidak berpuasa dan cukup membayar fidyah. Ini kalau sulit mendapat pekerjaan lain yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 2. Bagaimana hukumnya sedang berpuasa memasukkan obat melalui mata, telinga, dan dubur (obat ambeien)? (REZA KURNIA, Jl.Sidomukti Raya, Semarang) Dalam madzhab Syafi'i, masuknya sesuatu dengan sengaja walaupun kecil dan walau tak bisa dimakan ke dalam tubuh melalui lubang masuk yang terbuka, seperti mulut, hidung, telinga, "mulut kedua" saluran pengeluaran, kesemuanya itu membatalkan puasa. Kecuali bila yang masuk lalat, nyamuk atau debu. Memasukkan obat melalui mata tidak membatalkan puasa. 3. Ramadhan yang lalu saya masih berhutang puasa. Haruskah diganti dua kali lipat, adakah hadis/keterangan mengenai hal tersebut? (CINDY, Pamulang Ciputat Jakarta Selatan) Tidak harus mengganti dua kali lipat; tidak ada hadis/dalil yang mengharuskan demikian. Jadi, cukup mengganti sebanyak hari Anda tidak berpuasa, tetapi mayoritas ulama mengharuskan di samping mengganti juga membayar fidyah. 4. Saya mengalami mens tidak rutin. Sehari kering, sehari kemudian keluar lagi. Dalam keadaan demikian, bagaimana puasa saya? (SITI HUZAIMAH, Jl.Andera I/99 Pondok Labu Jakarta Selatan) Darah bulanan yang keluar kurang dari masa minimal haidh atau lebih dari masa maksimal tidak dinilai haidh. Mayoritas ulama menyatakan bahwa masa maksimal adalah lima belas hari. Nah, jika yang Anda alami lebih dari masa itu, maka Anda boleh berpuasa. 5. Sebelum puasa saya suntik KB. Bulan Puasa ini saya tidak haidh, tapi keluar flek-flek hitam. Batalkah puasa saya? (AYU, Jakarta Selatan) Batal, jika flek tersebut keluar pada masa yang biasanya Anda haidh. 6. Dalam sebuah riwayat, Rasul tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Apakah riwayat itu benar dan bagaimana sekarang ini banyak ulama, ustad, dan kyai yang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram? (AS FIRDAUS, Jl.Zainul Arifin No.5 Malang Jawa Timur) Berjabat tangan antara dua jenis kelamin yang bukan mahram diperselisihkan hukumnya oleh ulama. Ada yang membolehkan secara mutlak, ada juga yang menilainya makruh bila disertai syahwat dan mentolelirnya bila tanpa syahwat, dan ada pula yang dengan ketat melarangnya. Benar ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasul SAW tidak berjabat tangan dengan wanita. Ulama yang berjabat tangan dengan yang bukan mahram berpendapat bahwa sikap Rasul itu tidak menunjukkan larangan, tetapi untuk sekedar menghindari syubhat dan ihtiyath (berjaga-jaga). 7. Saya biasa salat malam sekitar pukul 02:30. Kebiasaan itu berlanjut dalam bulan Ramadhan ini. Bagaimana niat saya ketika mendirikan salat pada jam tersebut, niat tarawih atau tahajud? (IBU MARLINA, Graha Indah A-11/5 Pondok Gede Bekasi) Keduanya boleh. Saran saya tarawihlah dahulu, kemudian tahajud walau satu rakaat dan akhiri dengan witir. 8. Bagaimana cara zakatnya orang yang berhutang kepada bank? (ANISA, Padang Sumatera Barat) Salah satu syarat wajib berzakat adalah kepemilikan penuh terhadap harta. Dengan demikian hutang tidak dizakati, tetapi merupakan kewajiban yang menghutangi (kreditor) untuk mengeluarkan zakatnya saat ia menerima kembali uangnya. 9. Kapan tepatnya malam lailatul qadr, apa khasiat (keistimewaannya) dan bagaimana cara mendapatkannya? (TEGUH PRAYOGA, SMU Negeri 1 Pare Kediri Jawa Timur) Tidak ada yang mengetahui waktunya secara tepat. Nabi SAW menduga pada malam ganjil setelah 20 Ramadhan. Ia adalah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Untuk mendapatkannya diperlukan kedamaian batin, dengan Allah, sesama manusia, lingkungan dan diri sendiri. Yang bertemu dengannya akan beroleh bimbingan malaikat hingga akhir hidupnya. 10. Mana yang harus didahulukan puasa Syawal atau membayar utang puasa Ramadhan? (ELI HANDAYANI, PT Tigaraksa Jakarta Utara) Kalau harus memilih maka membayar hutang puasa lebih dahulu, karena ia wajib. 11. Bolehkah itikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan dilakukan di rumah, atau apakah harus di masjid? (RIDHWAN, Jl.Garnisun 1 No.4 Jakarta Selatan) Itikaf harus dilakukan di masjid. Mazhab Abuhanifah membolehkan wanita itikaf di mushala rumahnya. 12. Apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut mulai dua Syawal, atau bagaimana seharusnya? (DENI, Jl.Widya Chandra II/1 Jakarta) Puasa Syawal tidak harus dilakukan berturut-turut, asalkan selama dalam bulan Syawal. 13. Dokter menganjurkan orangtua saya yang baru dioperasi agar tidak berpuasa. Apakah dengan demikian orangtua saya cukup membayar fidyah atau mengganti puasa di lain waktu? Bagaimana pahala salat tarawihnya karena beliau tidak puasa? (ABDULLAH, Jakarta) Jika sebab tidak berpuasa itu bersifat sementara, maka beliau tidak harus membayar fidyah, cukup mengganti puasa, setelah Ramadhan. Akan tetapi jika karena tua sehingga diduga tidak akan dapat berpuasa lagi, maka cukup membayar fidyah saja. Pahala tarawihnya Insya Allah diperolehnya. 14. Apakah yang lebih utama salat tarawih delapan rakaat atau 20 rakaat? Adakah keterangan yang menjelaskan keduanya? (M.SADELI, Pintu II TMII/22 Lubang Buaya Jakarta Timur) Salat tarawih delapan atau 20 rakaat keduanya mempunyai dasar. Sedangkan keutamaan banyak ditentukan oleh kekhusyukan dan kesempurnaan salat, bukan oleh bilangan rakaatnya. 15. Bagaimana hukumnya mendengar orang yang sedang bergunjing? Apa tandanya orang yang mendapat lailatul qadr? (ENI, Tebet Mas Indah A2 No.15 Jakarta Selatan) Mendengar orang bergunjing dosa. Yang bergunjing itu hendaknya ditegur atau ditinggalkan. Tanda yang mendapat lailatul qadr antara lain hidupnya damai dengan semua pihak dan selalu terdorong melakukan kebajikan. 16. Bagaimana hukumnya puasa bagi pekerja kuli bangunan/pelabuhan, yang karena capek sering tidak puasa? (HARYADI, Jl.raya KKO Cilandak Gg.depot S Jakarta Selatan) Mereka dapat tidak berpuasa dan cukup membayar fidyah. Ini kalau sulit mendapat pekerjaan lain yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 17. Bagaimana hukumnya sedang berpuasa memasukkan obat melalui mata, telinga, dan dubur (obat ambeien)? (REZA KURNIA, Jl.Sidomukti Raya, Semarang) Dalam madzhab Syafi'i, masuknya sesuatu dengan sengaja walaupun kecil dan walau tak bisa dimakan ke dalam tubuh melalui lubang masuk yang terbuka, seperti mulut, hidung, telinga, "mulut kedua" saluran pengeluaran, kesemuanya itu membatalkan puasa. Kecuali bila yang masuk lalat, nyamuk atau debu. Memasukkan obat melalui mata tidak membatalkan puasa. 18. Ramadhan yang lalu saya masih berhutang puasa. Haruskah diganti dua kali lipat, adakah hadits/keterangan mengenai hal tersebut? (CINDY, Pamulang Ciputat Jakarta Selatan) Tidak harus mengganti dua kali lipat; tidak ada hadits/dalil yang mengharuskan demikian. Jadi, cukup mengganti sebanyak hari anda tidak berpuasa, tetapi mayoritas ulama mengharuskan disamping mengganti juga membayar fidyah. 19. Kalau di bulan puasa main kartu remi pakai uang monopoli, dosa tidak? (AYUDIAH, Kompleks TVRI Blok D2 No.14 Jakarta) Tidak dosa. Tetapi itu menyianyiakan kesempatan emas, makruh, dan anda mendapat ganjaran jika menolak ajakan bermain remi. 20. Apa dasarnya melaksanakan salat witir tiga rakaat dengan dua salam? (HANAFI, Jl.Kalimantan No.14 Cinere Jakarta Selatan) Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban menyatakan bahwa beliau salat witir tiga rakaat dan memisahkan yang genap dan yang ganjil. 21. Mana yang benar mengirim doa atau mendoakan yang sudah meninggal? Saya tidak pernah berziarah ke makam Bapak/Ibu, dosakah saya? (KUSMIYATI, Jl.Hemat Daan Mogot Jakarta Barat) Yang benar mendoakan yang meninggal. Anda berdosa/kurang setia kepada orangtua jika tidak pernah berziarah, mendoakan pun tidak. Yang wafat sangat mendambakan doa yang hidup.

Baca selanjutnya ..

Kamis, 03 Maret 2011

Imam al Ghozali

Kisah ini menceritakan tentang seorang tokoh sufi yang sangat terkenal. Beliau adalah Imam Al-Ghazali yang dilahirkan di kota Gazalah, di Iran utara. Jadi, nama tempat kelahirannya menjadi namanya juga (ini kebiasaan bagi orang-orang Arab).

Nama sebenarnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad At-Tusi Al-Ghazali. Beliau berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya hanya seorang pemintal benang tenun. Namun, ayahnya ingin sekali anaknya menjadi orang yang berilmu.

Sebelum meninggal, ayahnya menitipkan Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, kepada seorang sahabatnya.

Kala itu, sang ayah hanya meninggalkan warisan yang tidak seberapa. Oleh sahabat ayahnya, Al-Ghazali dan Ahmad dimasukkan sekolah. Al-Ghazali menjadi anak yang haus ilmu. Ia banyak belajar berbagai hal.

Ketika Al-Ghazali menginjak usia remaja, sahabat ayahnya sudah tidak sanggup lagi menyekolahkannya. "Abu Hamid, harta ayahmu yang dititipkan kepadaku telah habis. Aku merasa tidak sanggup lagi untuk menyekolahkanmu. Oleh karena itu, aku sarankan untuk mencari biaya pendidikan ke luar kota. Kudengar di Thus ada seorang ulama kaya yang suka membantu orang-orang tidak mampu. Datanglah ke sana.!"


Beruntunglah ketika pindah ke kota Thus, Al-Ghazali mendapat bea siswa dari Ahmad bin Muhammad Razkafi. Ulama inilah yang telah mengajarkan kepada Al-Ghazali tentang cara membaca Al-Qur'an, hadits, dan fiqh. Al-Ghazali sangat cepat menguasai pelajaran. Dalam waktu singkat ia telah fasih membaca Al-Qur'an, hafal banyak hadits, dan tahu banyak tentang hukum islam. Hal ini membuat Al-Ghazali semakin meneguhkan hatinya untuk belajar. Ia ingin mengangkat derajatnya dengan ilmu pengetahuan.

Selesai menamatkan pendidikan di kota Thus, Al-Ghazali meminta izin untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Atas restu gurunya dan bantuan pemuka setempat, Al-Ghazali bisa melanjutkan pendidikan ke kota jurjan. Ia belajar di sebuah sekolah yang di pimpin oleh ulama besar bernama Abu Nasar ismaili. Disini, ia belajar selama tiga tahun. Setelah itu, kembali ke kotanya.

Dalam perjalanan pulang, Al-Ghazali mendapat pelajaran berharga. Keteguhan hatinya untuk belajar ilmu agama diuji oleh Allah. Ketika pulang, ia dicegat gerombolan perampok.

"Hai, anak muda! Serahkan hartamu kalau mau selamat!" hardik seorang perampok.

"Aku tidak memiliki apa pun selain pakaian dan buku-buku ini," ujar Al-Ghazali dengan penuh iba.

Para perampok itu menggeledah Al-Ghazali. Tapi, mereka tidak menemukan harta yang di cari. Mereka pun menjadi sangat kesal. Kemudian memberantakkan buku-buku catatan Al-Ghazali. Dengan penuh harap, Al-Ghazali memohon kepada mereka, "Wahai tuan, tolong kembalikan buku-buku catatanku. Engkau boleh ambil pakaian-pakaian milikku."

Perampok itu tak menghiraukan permohonan Al-Ghazali. Salah seorang dari mereka malah menyindirnya,"Untuk apa engkau belajar, kalau masih membutuhkan catatan-catatan tak berguna ini!" Para perampok itu lalu membakar buku-buku catatan milik Al-Ghazali.

Al-Ghazali hampir menangis karena kesal melihat ulah para perampok itu. Namun, kata-kata sindiran dari perampok terngiang-ngiang di telinganya.

Al-Ghazali benar-benar terpukul oleh kejadian tersebut. Sejak itu, ia meneguhkan hatinya untuk dapat menghafal seluruh catatannya. Selama tiga tahun ia kembali menghafal segala sesuatu yang telah dipelajarinya. Oleh karena itu, ia tidak memerlukan buku lagi. Subahanallah, karena kepintarannya, Al-Ghazali mampu menghafalkan semua yang telah dipelajarinya.

Orang yang telah teguh hatinya tidak akan mundur ketika ditimpa musibah. Setiap musibah pasti mengandung hikmah. Ingatlah bahwa seseorang yang sedang diuji dengan musibah, orang itu sedang diperhatikan oleh Allah.

Al-Ghazali kemudian menjadi sarjana yang sangat ahli dalam berbagai bidang. Keharuman namanya membuat ia diangkat menjadi guru besar hukum di Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Dengan keteguhan hatinya, Al-Ghazali dianggap menjadi pembela kebenaran islam yang terbesar sehingga dijuluki Hujjatul Islam atau pembela Islam. Ia telah menulis sebuah karya terbesar berjudul Ihya' Ulum ad-Din (menghidupkan kembali ilmu agama). Kitab ini masih dibaca dan dipelajari orang hingga kini. Ia memang terkenal sebagai penulis. Karyanya yang sudah dibukukan berjumlah sekitar 228 buku mencakup berbagai bidang ilmu.

Pengaruh Al-Ghazali sangat besar dalam Islam. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa ia adalah salah seorang tokoh terpenting setelah Nabi Muhammad Saw. Demikianlah kisah keteguhan hati sang tokoh sufi. Ia merupakan salah satu tukoh Islam yang banyak mengajarkan ilmu menata hati.

Baca selanjutnya ..

Rabu, 19 Januari 2011

Imam Hambali

Imam Ahmad Bin Hambal (164 - 241)
Nama dan Nasab : Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis. 

Kelahiran Beliau :
Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya. 


Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. 

Keadaan fisik beliau :
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain. Yang lain mengatakan, "Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)" 

Keluarga beliau :
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya. 

Kecerdasan beliau :
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, "Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya". 

Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, "Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya". 

Abu Zur’ah pernah ditanya, "Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?" Beliau menjawab, "Ahmad". Beliau masih ditanya, "Bagaimana Anda tahu?" beliau menjawab, "Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya". Abu Zur’ah mengatakan, "Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits". 

Pujian Ulama terhadap beliau :
Abu Ja’far mengatakan, "Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya". 

Imam Asy-Syafi’i berkata, "Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah". 

Ibrahim Al Harbi memujinya, "Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu". 

Kezuhudannya :
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, "Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil". 

Tekunnya dalam ibadah
Abdullah bin Ahmad berkata, "Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at, setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus lima puluh raka’at. 

Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, "Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya". Ada juga yang mengatakan, "Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya". Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya. 

Tawadhu’ dengan kebaikannya :
Yahya bin Ma’in berkata, "Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami". 

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, "Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas". 

Al Marrudzi berkata, "Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya". 

Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?" beliau mengatakan, "Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!" 

Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, "Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak". 

Hati-hati dalam berfatwa :
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, "Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, "Tidak cukup". Hingga akhirnya ia berkata, "Apakah cukup lima ratus ribu hadits?" beliau menjawab. "Saya harap demikian". 

Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, "Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya". Sufyan bin Waki’ juga berkata, "Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik". 

Masa Fitnah :
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini. 

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya. 

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara. 

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, "Bagaimana kalian menyikapi hadits Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad,"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya". HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, "Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja". 

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, "Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat". 

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Beliau mengatakan, "Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, "Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia". Maka hatiku bertambah kuat". 

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, "Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, "Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya". 

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, "Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!! 

Guru-guru Beliau
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah: 

1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.


Murid-murid Beliau :
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah : 

1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya. 

Wafat beliau :
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan. 

Karya beliau sangat banyak, di antaranya : 

1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, "Kitab ini hilang".
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh


Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya. 

Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah Sumber: Majalah As Salam

Baca selanjutnya ..

Al Imam Syafi'i

Imam Syafi’i r.a. (150H – 204H )
Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di daerah Ghazzah, Palestina pada tahun 150 H di bulan Rajab. 

Nasab Imam Syafi’i 

Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdullah bin Abdu Manaf. Kun-yah (panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Abdullah (bapaknya Abdullah) dikarenakan salah seorang anak beliau yang bernama Abdullah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Rasulullah Shalallahu alahi wa salam (SAW) pada Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim kakek Imam Syafi’i bukanlah kakek dari Rasulullah SAW. 


Diriwayatkan bahwa ketika beberapa hari setelah ibunda Imam Syafi’i melahirkan terdengar kabar dari Baghdad tentang meninggalnya Imam Abu Hanifah. Tatkala diteliti dengan seksama ternyata hari meninggalnya Imam Abu Hanifah bertepatan dengan saat lahirnya Imam Syafi’i. Para ulama waktu itu mengisyaratkan bahwa Muhammad yang baru lahir kelak akan mengikuti derajat keilmuan Imam Abu Hanifah. 

Hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan kedatangan Imam Syafi’i

Para ulama telah menelaah sejumlah hadits dari Rasulullah SAW berkenaan dengan kegembiraan Rasulullah SAW kepada Imam Syafi’i.

Hadits dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: janganlah kamu mencaci-maki Quraisy karena orang alim Quraisy itu ilmunya akan memenuhi bumi. Ya Allah, Engkau telah memberi siksaan pada awal Quraisy, maka berilah anugerah pada akhir Quraisy.” 

Hadits dari Ali bin Abi Thalib beliau berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: jangan kamu mengimami orang Quraisy dan bermakmumlah kamu pada mereka. Jangan mendahului Quraisy akan tetapi dahulukanlah mereka. Jangan kamu mengajari Quraisy tetapi belajarlah dari mereka karena ilmu orang alim Quraisy akan menyebar ke seluruh dunia,” 



Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu 

Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang miskin, tidak menjadikan beliau rendah diri apalagi malas. Sebaliknya, keadaan itu membuat beliau makin giat menuntut ilmu. Pada umur 9 tahun beliau telah hafal Al Quran seluruhnya. Beliau banyak berdiam di Masjid al-Haram dimana beliau menuntut ilmu pada ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Beliau mencatat ilmu-ilmu yang telah diperolehnya pada kertas-kertas, kulit dan tulang binatang. Hingga pada suatu hari kamar tempat istirahatnya penuh oleh kertas, kulit dan tulang. Maka seluruh catatan pada benda-benda itu dihafal oleh Imam seluruhnya, lalu setelah itu benda-benda tersebut dibakarnya. 

Kekuatan hafalan Imam Syafi’i sangat mencengangkan. Sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. Ketika beliau membaca satu kitab beliau berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya karena khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu sebelum beliau hafal halaman yang kanan. 

Mengenai hal ini beliau bercerita: bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Siapa kamu hai anak muda?” Imam Syafi’i berkata. : “aku termasuk umatmu, ya Rasulullah” Rasul berkata: “mendekatlah padaku.” Imam Syafi’i lalu mendekat kepada Rasulullah SAW, lalu Rasul mengambil air liurnya dan meletakkan air liur itu ke dalam mulut dan bibir Imam Syafi’i. setelah itu Rasulullah SAW berkata padanya: “ berangkatlah, semoga Allah memberkahimu.” Setelah mimpi itu beliau tak pernah merasa kesulitan dalam menghafal ilmu. 

Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan beliau dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan dan penghargaan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau. Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan beliau untuk berfatwa di Masjid al-Haram. Ketika itu beliau bahkan baru mencapai usia 15 tahun. Kepergian Imam Syafi’i ke Madinah 

Imam Syafi’i hidup sejaman dengan Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar pendiri madzhab Maliki. Imam Malik bin Anas juga dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau menghimpun hadits-hadits nabi dalam kitab beliau yang berjudul Muwattha’. Imam Syafi’i pernah meminjam kitab Muwattha’ pada salah seorang penduduk Mekkah dan menghafalnya dalam waktu singkat. Imam Syafi’i rindu untuk melihat Imam Malik di Madinah Al Munawwarah dan berharap dapat mengambil manfaat dari ilmu beliau. 

Maka pada suatu hari berangkatlah Imam Syafi’i ke Madinah dengan niat untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah beliau mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak 16 kali. Malam satu kali khatam dan siangnya satu kali. Pada hari ke delapan beliau tiba di Madinah setelah shalat ashar. Beliau shalat di Masjid Nabawi dan berziarah terlebih dahulu ke makam Rasulullah SAW. Setelah itu baru beliau menuju kediaman Imam Malik bin Anas. 

Ketika Imam Syafi’i menghadap Imam Malik, beliau berkata: “mudah-mudahan Allah selalu memberimu kebaikan. Aku adalah seorang penuntut ilmu. Kondisi dan ceritaku begini dan begini…” 

Mendengar perkataan itu Imam Malik merasa kasihan dan bertanya kepadanya: “siapa namamu?” Imam Syafi’i menjawab: “Muhammad.” Imam Malik berkata kepadanya; “wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah, hindarilah maksiat. Aku melihat di hatimu ada cahaya. Karena itu janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan maksiat. Sesungguhnya cahaya itu akan menjadikanmu dibutuhkan oleh manusia. “ Imam Syafi’i menjawab: “ya.” Imam Malik lalu berkata: “kalau besok kamu masih ada, kami akan mengajarkanmu kitab Muwattha’.” 

Imam Syafi’i berkata: “wahai tuanku, aku telah membaca kitab Muwattha’ sampai hafal.” Imam Malik berkata: “bacalah!” lalu Imam Syafi’i membaca dan Imam Malik menyimaknya. Ketika Imam Syafi’i khawatir Imam Malik lelah, maka beliau berhenti. Dan Imam Malik lalu berkata: “teruskan wahai anak muda, aku akan memperbaiki bacaanmu.” Demikianlah, maka aktivitas harian Imam Syafi’i adalah membaca kitab Muwattha’ dibawah bimbingan Imam Malik. 

Beliau pun selalu hadir di majlis ilmu Imam Malik yang menerangkan tentang hadits-hadits Rasulullah SAW. Imam Malik memuji kuatnya hafalan dan keluasan pemahaman Imam Syafi’i terhadap ilmu yang dipelajarinya. Seringkali sehabis membacakan kitabnya, Imam Malik meminta Imam Syafi’i untuk menyampaikannya kepada orang lain. Imam Malik juga sering memberikan hadiah kepada sang murid sebagai wujud rasa cinta dan perhatian beliau kepadanya. 

Demikian juga Imam Syafi’i begitu mencintai gurunya dengan sepenuh hati. Beliau berkata: “Malik bin Anas adalah guruku. Dari beliau aku belajar dan tidak ada orang yang aku percaya kecuali Malik bin Anas. Dan aku menjadikan Malik bin Anas sebagai hujjah (saksi) antara aku dan Allah.” Kepergian Imam Syafi’i ke Iraq 

Pada waktu Imam Syafi’i telah menyelesaikan pelajarannya pada Imam Malik, beliau mendengar kabar tentang Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang adalah murid sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah yang sedang berada di Iraq yaitu di kota Kufah. Beliau ingin sekali bertemu dengan mereka berdua. Maka Imam Syafi’i lantas memohon izin kepada Imam Malik untuk pergi ke Iraq. Imam Malik memberi tambahan bekal kepada beliau dan menyewakannya hewan tunggangan menuju kota Kufah. 

Di Kufah, begitu berjumpa dengan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, mereka berdua sangat gembira dengan kedatangan Imam Syafi’i. Mereka bertanya kepada beliau tentang Imam Malik bin Anas. Beliau berkata: “aku telah datang kepadanya.” Salah satu dari keduanya berkata: “apakah kamu melihat kitab Muwattha’?” Imam Syafi’i menjawab: “aku telah menghafal kitab tersebut dalam lubuk hatiku.” 

Itu semua telah membuat Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf menaruh hormat kepada Imam Syafi’i. Muhammad bin Hasan lalu bertanya kepada beliau tentang masalah thaharah, zakat, jual beli, dan masalah lainnya yang dijawab dengan jawaban yang sangat bagus oleh Imam Syafi’i. Bertambah kagumlah Muhammad bin Hasan pada beliau. Kemudian ia mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya dan mengizinkan Imam Syafi’i untuk menyalin kitab apa saja yan dia inginkan yang ada di perpustakaan miliknya. 

Selama di Kufah, Imam Syafi’i menjadi tamu Muhammad bin Hasan. Ketika beliau telah selesai mempelajari kitab-kitab di perpustakaan Muhammad bin Hasan, beliau lantas mohon izin untuk meneruskan perjalanan menuju Persia dan kota-kota disekitarnya. Kembali ke Madinah 

Ketika beliau di kota Romlah ada serombongan orang Madinah datang. Beliau bertanya tentang keadaan guru beliau, Imam Malik bin Anas. Mereka menjawab bahwa Imam Malik dalam keadaan sehat. Imam Syafi’i merasa rindu dan ingin sekali berjumpa dengan guru yang sangat dicintainya itu. Maka beliau pun mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju ke Madinah. 

Sampai di Madinah, setelah berziarah ke makam Rasulullah SAW, beliau lantas menuju pengajian Imam Malik. Ketika Imam Malik mengetahui kehadiran Imam Syafi’i, beliau memanggilnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Murid-murid Imam Malik yang lain merasa terharu melihat peristiwa ini. Imam Malik lalu membawa Imam Syafi’i duduk disisinya. Beliau berkata: “ajarilah ini, wahai Syafi’i.” Setelah menyelesaikan pelajaran itu, Imam Malik mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya. 

Imam Syafi’i tinggal selama beberapa tahun di Madinah. Selama itu beliau senantiasa mendapat perlakuan yang istimewa dan sangat diperhatikan oleh gurunya. Pada bulan Rabi’ul awwal tahun 179 H Imam Malik bin Anas wafat dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ di kota Madinah. Seluruh penduduk Madinah tenggelam dalam duka cita karena meninggalnya Imam yang sangat alim dan mulia ini. Setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafi’i masih tinggal beberapa lama di Madinah. Beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmunya di sana. 

Berita tentang keluasan ilmu beliau segera saja menyebar ke seluruh negeri. Orang berduyun-duyun datang untuk menyimak pelajaran yang beliau sampaikan. Ketinggian ilmu dan ma’rifahnya, baik itu dibidang fiqh, hadits, filsafat, kedokteran, ilmu falak dan lain-lain membuat khalifah Harun al-Rasyid mengundang beliau dan meminta beliau untuk mengajar di kota Baghdad. Sejak saat itu beliau dikenal secara luas dan lebih banyak lagi orang yang datang menuntut ilmu padanya. Pada waktu itulah madzhab beliau mulai dikenal. Imam Syafii mengajar banyak orang yang kelak sebagian dari mereka menjadi ulama-ulama yang besar pula. 

Diantara murid-murid beliau yaitu Imam Ahmad bin Hanbal yang kelak dikenal sebagai salah seorang Imam madzhab juga. Semua orang, baik dari kalangan pejabat maupun rakyat sangat mencintai dan mengagungkan kedudukan Imam Syafi’i. Demikian pula murid-murid beliau begitu menaruh hormat padanya. Ini terbukti ketika Imam Ahmad bin Hanbal sakit dan Imam Syafi’i membesuknya. Waktu beliau sampai di rumahnya, Imam Ahmad bin Hanbal langsung turun dari tempat tidurnya dan meminta Imam Syafi’i untuk duduk di tempat itu. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal duduk di tanah dan sewaktu-waktu beliau bertanya pada Imam Syafi’i. 

Ketika Imam Syafi’i hendak pulang, Imam Ahmad bin Hanbal menaikkan beliau ke hewan tunggangannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal naik ke tunggangannya -beliau dalam kondisi sakit- dengan menerobos jalan dan pasar-pasar Baghdad, sampai ia bisa mengantar Imam Syafi’i tiba di rumahnya. 

Pulang ke Mekkah 

Setelah beberapa waktu berada di Baghdad, beliau bermaksud pulang ke Mekkah. Memakan waktu perjalanan beberapa hari akhirnya beliau sampai di Mekkah. Waktu itu tahun 181 H. Sebelum masuk kota Mekkah, beliau mendirikan kemah di luar kota. Penduduk Mekkah keluar untuk menyampaikan salam dan menyambutnya. Beliau lalu membagi-bagikan seluruh emas dan perak yang beliau miliki kepada mereka. Hal itu dilakukan untuk melaksanakan wasiat ibunya ketika beliau datang ke Mekkah. Begitulah, Imam Syafi’i masuk ke kota Mekkah dalam keadaan tidak membawa apapun, sama seperti ketika beliau keluar dari Mekkah dalam keadaan tidak membawa benda apapun. 

Beliau tinggal di Mekkah selama 17 tahun. Selama berada disana beliau mengajarkan ilmu pada manusia. Madzhab Imam Syafi’i tersebar di antara jamaah haji dan mereka membawa madzhab tersebut ke tempat asal mereka masing-masing. Selama 17 tahun tinggal di Mekkah beliau mendengar wafatnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang dahulu pernah ditemuinya di kota Kufah. Setelah itu wafat pula Harun al-Rasyid. 

Setelah sekian lama tinggal di Mekkah beliau lantas kembali ke kota Baghdad. Disana beliau melanjutkan kegiatan mengajar selama beberapa waktu. Setelah itu beliau bermaksud hendak pergi ke Mesir. Ketika penduduk Baghdad mendengar akan kepergian orang mulia ini, maka mereka keluar untuk perpisahan dengan beliau. Di tengah-tengah penduduk ini ada Imam Ahmad bin Hanbal. Maka diwaktu itu Imam Syafi’i memegang erat tangan Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata: “sungguh aku rindu akan bumi Mesir. Selain Mesir adalah bumi yang tandus. Demi Allah, aku tidak tahu untuk kemuliaan atau untuk kaya aku pindah ke Mesir. Atau pindah ke kubur?” 

Seakan-akan Imam Syafii merasa akan wafat di Mesir dan kuburannya akan berada di negeri itu. Lalu beliau menangis. Imam Ahmad bin Hanbal dan semua orang yang menyaksikan perpisahan itu menangis semua. Imam Ahmad bin Hanbal pulang sambil bercucuran airmata dan berkata pada para penduduk Baghdad: “ sungguh ilmu fiqh telah tertutup, lalu Allah membukakan ilmu itu dengan kedatangan Imam Syafi’i.” Menetap di Mesir 

Di negeri Mesir segera saja penduduknya jatuh hati pada Imam Syafi’i. Para ulama negeri itu juga memuliakannya dan meminta beliau untuk mengajar di masjid Amru bin Ash. Beliau mengajar sehabis subuh sampai zhuhur. Imam Syafi’i adalah orang pertama yang mengajar ilmu hadits di Mesir sampai zhuhur. Setelah itu beliau melanjutkan pelajaran di rumahnya. 

Para ulama dan orang-orang jenius terpelajar lainnya datang menyimak pelajaran yang beliau sampaikan baik di masjid maupun di rumah. Di antara orang-orang yang belajar pada beliau yang kelak menjadi ulama terkenal adalah Muhammad bin Abdullah bin Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Yaqub Yusuf bin Yahya Al-Buwaiti, Rabi’ Al-Jizi dan lain sebagainya. Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi madzhab beliau. Di antara kitabnya adalah Al-Umm, Imla’ al-Shaghir, Jizyah, Ar-Risalah dan lain sebagainya. 

Sebagian dari akhlak Imam Syafi’i 

Imam Syafi’i adalah seorang yang taqwa, zuhud dan wara’. Beliau juga sangat santun dalam memberi peringatan kepada orang yang melakukan kesalahan. Hatinya sangat lembut dan dermawan terhadap harta. Baihaqi meriwayatkan dari Hasan bin Habib. Dia berkata: “Aku melihat Imam Syafi’i menunggang kuda melewati pasar sepatu. Tiba-tiba cambuknya jatuh dan mengenai salah seorang pedagang sepatu. Lalu pedagang sepatu itu mengusap cambuk untuk membersihkannya dan memberikan cambuk itu pada beliau. Imam Syafi’i lalu menyuruh budaknya untuk memberikan uangnya pada pedagang itu.” 

Tiada hari yang dilewati beliau tanpa bershadaqah. Siang dan malam beliau selalu bershadaqah, Apalagi di bulan Ramadhan. Beliau juga sering mengunjungi fakir miskin dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka. Untuk menafkahi keluarganya beliau berdagang. 

Imam Syafi’i sangat baik dalam memperlakukan kerabat-kerabatnya. Beliau menghormati mereka dan tidak menyombongkan dirinya. Beliau menghormati orang sesuai posisinya. Imam Syafi’i pernah berkata: “Paling zhalimnya orang adalah ia yang menjauhi kerabatnya, tidak mau tahu terhadap mereka, meremehkan dan sombong pada orang yang memiliki keutamaan.” 

Beliau juga senantiasa memaafkan orang yang berbuat kesalahan kepadanya. Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak pernah menyimpan dendam kepada seseorang. 

Pujian Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi’i 

Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa penasaran kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui perilaku beliau dari dekat. Imam Ahmad bin Hanbal lalu menemui Imam Syafi’i dan menyampaikan undangan itu. 

Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Ahmad, putrinya lalu membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan sangat lahap. Ini membuat heran putri Imam Ahmad bin Hanbal. 

Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam Syafi’i langsung merebahkan tubuhnya dan tidak bangun untuk melaksanakan shalat malam. Pada waktu subuh tiba beliau langsung berangkat ke masjid tanpa berwudhu terlebih dulu. Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal langsung protes kepada ayahnya tentang perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, langsung menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i. 

Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap beliau berkata: “Ahmad, memang benar aku makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.” “Kenapa begitu, wahai guru?” 

“Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan 100 masalah yang bermanfaat bagi orang islam. Karena itu aku tak sempat shalat malam.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.” 

Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun .wudhuku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.” 

Dilain kesempatan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “aku tidak pernah shalat sejak 40 tahun silam kecuali dalam shalatku itu aku berdoa untuk Imam Syafi’i.” Abdullah, putranya lantas bertanya: “wahai ayahku, seperti apa sih Syafi’i, sehingga ayah selalu berdoa untuknya?” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu.” 

Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni berkata: “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal dan beliau selalu menyebut Imam Syafi’i. Aku selalu melihat beliau mengagungkan Imam Syafi’i.” 

Wafatnya Imam Syafi’i 

Beliau wafat pada malam jum’at akhir dari bulan Rajab tahun 204 H setelah mengalami sakit selama beberapa waktu. Setelah isya ruh beliau yang suci kembali ke Rahmatullah di pangkuan murid beliau, yaitu Rabi’ al-Jizi. Jenazah beliau dimakamkan dengan iringan tangis dan rintih duka cita dari segenap penduduk Mesir. 

Dari berbagai sumber.

Baca selanjutnya ..

Syech Abdul Qodir Al Jilani

Beliau adalah Syeh Muhiyudin Abu Muhammad Absul Qodir bin Abu Saleh Jinki Dusat bin Musa Al Juun, bin Abdulah Al-Mahd bin Hasan Al Nustanna, bin Amirul Mu’miniin Abu Hasan bin Amirul Mu’miniin Ali bin Abi Tholibbin Abdul Muntholib, bin Hasyim bin Abdul Mnaaf, bin Qushay, bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Gholib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Madhar bin Nadzar bin Ma’ad bin Adnan Al Quraisyi Al-Alawi Al Hasani Al-Jilli Al-Hambali. 

Beliau adalah cucu dari Syeh Abdullah Asshouma’I , pemimpin para zuhad (asketis) dan salah seorang Syeh kota Jilan serta dianugerahi beberapa karomah. Syeh Abu Abdilah Muhammad Al-Qazwany berkata “Syeh Abdullah Ash-shouma’I adalah seorang yang mustajab doanya. Apabila dia marah maka Allah akan segera menghancurkan yang dimurkainya. Dan apabila beliau menyenangi sesuatu maka Allah akan menjadikan sesuat tersebut sesuai dengahn yang dikehendakinya. “ dibalik kerapuhan badan dan kerentaan usianya beliau masih konsisten melaksanakan amalan sunah dan berzikir. Kekhusyuannya dapatdirasakan oleh semua orang , sangat sabar dalam kekonsistenannya dan sangat menjaga waktunya. Beliau sering mengabarkan tenteng sesuatu yang belum terjadi dan kemudian terjadi seperti apa yang beliau kabarkan. 

Seorang sahabat kami(penulis) meriwayatkan “suatu saat ketika kami sedang melakukan perjalanan niaga, segerombolan perompak menyerang kami di padang pasir Samarkand. Saat itu ada yang berteriak emmanggil Syaikh Abdullah Ash-shouma’I dan berikutnya beliau muncul di tengah-tengah kami seraya mengucapkan ”Subbuhul Quddus”menjauhlah daei kami’. Gerombolan perampok itu bercerai berai . setelah selamat dari serangan itu kami mencari sang Syaikh dan tidak menemukannya . dia raib begitu saja. Setibanya kami di Jilan, kami menceritakan hal tersebut kepada orang-orang dan mereka berkata “demi Allah , Sang Syaikh tidak pernah hilang dari kami.” Diriwayatkan dari Hafidz Dzahabi dan Hafidz Ibnu Rajab bahwa ayah beliau adalah Shalih Jinki Dusat ,Wallahu A’lam. Dan Dusat yang berasal dari bahasa non Arab – berarti suka berperang. Wallahu a’lam. 


Ibu beliau adalah Fatimah binti Syaikh Abdullah Ash-shouma’I . diriwayatkan darinya ,”setelah lahir anakku Abdul Qodir tidak mau menyusu pada saat Ramadhan. Oleh karena itu jika orang-orang tidak dapat melihat hilal penentuan bulan Ramadhan , mereka mendatangiku dan menanyakan hal tersebut padaku. Jika aku menjawab ‘hari ini anakku tidak menyusu maka orang-orangpun megerti bahwa bulan Ramadhan telah tiba.’ Bahwa beliau bayi yang tidak menyusu pada bulan Ramadhan adalah sesuatu yang masyhur di Jilan. 

Diriwayatkan bahwa saat mengandung beliau usia ibunya 60 tahun. Ada yang mengatakan bahwa tidak ada perempuan yang hamil pada usia 60 tahun kecuali wanita quraisy dan tidak ada wanita yang dapat hamil pada usia 50 tahun kecuali wanita Quraisy. 

Syaikh Abdul Qodir berada dalam pengasuhan orange tuanya hingga amencapai usia 18 tahun. Saat itulah bertepatan dengan tahun wafatnya At-Tamimi (448 H) , beliau pergi ke Baghdad. Waktu itu yang berkuasa adalah Sultan Al-Mustadzir Billah Abu Abbas Ahmad bin Al-Muqtadi bin Amrillah Abul Qasim Abdullah Al-Abbas. 

Imam Taqqiyuddin Muhammad Al-Waidz Al-Lubnani dalam kitabnya Al-Mausum bi raudhoh al-abrar wa mahasin al-akhyar meriwayatkan ketika Syaikh Abdul Qodir hendak memasuki kota Baghdad, beliau menjumpai Khidir as, berdiri di depan pintu, menghalanginya masuk dan berkata “Aku tidak memiliki perintah yang memperbolehkanmu memasuki Baghdad hingga 7 tahun ke depan.” Syaikh Abdul Qodir akhirnya bermukim di tepian Baghdad dan hidup dari sisa-sisa makanan selama 7 tahun. 

Hingga pada suatu malam di tengah hujan deras, sebuah suara berkata kepadanya “Abdul Qodir masuklah ke Baghdad.” Beliaupun memasuki Baghdad dan menuju ke Mushola Syaikh Hammad bin Muslim Ad-dabbas . sebelum beliau tiba, Syaikh Hammad memerintahkan murid muridnya untuk mematikan lampu dan menutup semua pintu. 

Ketika tiba dan mendapati pintu tertutup serta lampu sudah dimatikan, Syaikh Abdul Qodir duduk di depan pintu dan tertidur lalu bermimpi basah. Bangun dari tidurnya beliau langsung mandi besar lalu kembali tidur dan kembali bermimpi. Baliau kemudian mandi besar. Hal tersebut berulang sampai 17 kali. 

Saat subuh tiba, pintu dibuka dan masuklah Syaikh Abdul Qoodir Al-Jailani. Syeikh Hammad bangkit menyambutnya, dan memeluknya dan menangis sambil berkata “Anakku Abdul Qodir saat ini negeri ini milik kami dan besok akan menjadi milikmu. Apabila engkau berkuasa kelak, berlaku adilah terhadap orang tua ini.” 

Diriwayatkan oleh Imam Nurruddin Abu Hasan Ali bin Yusuf bin Jarir bin Ma’dhad bin fadl Asy-Syafi’i Al-Lakhmi , pengarang kitab Bahjat Al-Asrar,”Wahai yang kedatangannya merupakan awal dari kebahagiaan bagi negeri yang kelak menjadi tempat tinggalnya, diikuti awan rahmat yang menutup seluruh daerahnya, berlipat ganda hidayah di dalamnya sehingga para Abdal dan awtadnya kembali bersinar, utusan-utusan berdatangan mengucapkan selamat sehingga setiap hari di dalamnya merupakan hari besar…..”

Baca selanjutnya ..

Imam Al Bukhari

Imam Bukhari
Amirul Mukminin fil Hadits, gelar itu didaulatkan para ulama kepada ahli hadis dari Kota Bukhara, Uzbekistan. Tak salah bila ulama besar di abad ke-9 M ini ditabalkan sebagai ‘Pemimpin Kaum Mukmin dalam Ilmu Hadis’. Betapa tidak, hampir seluruh ulama merujuk kitab kumpulan hadis sahih yang disusunnya. 

Para ulama juga bersepakat, Al Jami’ as Sahih atau Sahih Al Bukhari—kumpulan hadis sahih sebagai kitab paling otentik setelah Alquran. Sahih Al Bukhari yang disusun ulama legendaris asal ‘kota lautan pengetahuan’—Bukhara—itu juga diyakini kalangan ulama Sunni sebagai literatur hadis yang paling afdol. 

Sang ulama fenomenal itu mendedikasikan hidupnya untuk menyeleksi secara ketat ratusan ribu hadis yang telah dihafalnya sejak kecil. Karyanya yang sangat monumental itu bak cahaya yang telah menerangi perjalanan hidup umat Islam. Ribuan hadis sahih telah dipilihnya menjadi pedoman hidup umat Islam, sesudah Alquran. 


Ulama besar dan ahli hadis nomor wahid ini memiliki nama lengkap Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu Al Mughirah Ibnu Bardizbah Al Bukhari. Ia lebih dikenal dengan nama tanah kelahirannya, Bukhara. Dan, masyarakat Muslim pun biasa memanggilnya Imam Bukhari. 

Pemimpin kaum Mukminin dalam ilmu hadis itu terlahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H, bertepatan dengan 20 Juli 810 M. Sejak kecil, Imam Bukhari hidup dalam keprihatinan. Alkisah, ketika terlahir ke dunia, Bukhari cilik tak bisa melihat alias buta. Sang bunda tak putus dan tak tak pernah berhenti berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan penglihatan putranya. 

Sang Khalik pun mengabulkan doa-doa yang selalu dipanjatkan ibu Imam Bukhari. Secara menakjubkan, ketika menginjak usia 10 tahun, penglihatan bocah yang kelak menjadi ulama terpandang itu kembali normal. Imam Bukhari sudah akrab dengan ilmu hadis sejak masih belia. Sang ayah, Ismail Ibnu Ibrahim, juga seorang ahli hadis yang terpandang. 

Ismail merupakan salah seorang murid ulama terpandang, Hammad ibnu Zaid dan Imam Malik. Sang ayah tutup usia saat Imam Bukhari masih belia. Meski hidup sebagai seorang anak yatim yang serba pas-pasan, Bukhari cilik tak pernah putus asa. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, tanpa merisaukan masalah keuangan. 

Ilmu hadis telah membetot perhatiannya sejak kecil. Selain belajar Alquran dan pelajaran penting lainnya, ilmu hadis adalah favoritnya. Sejak penglihatannya menjadi normal, dia sudah membaca karya-karya atau kitab hadis yang ada. Bahkan, menginjak usia 16 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghafal karya-karya Waki dan Abdullah Ibnu Al Mubarak. 

‘’Sekali saja ia membaca buku, dia sudah hafal isinya,’‘ papar Ibnu Katheer yang terkagum-kagum dengan daya ingat sang ahli hadis. Daya ingat dan kecepatannya dalam menghafal sungguh tiada dua pada zamannya. Kekuatan intelektualnya sungguh sangat memukau dan menakjubkan. 

Pada usia 10 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghafal 70 ribu hadis. Tanpa bermaksud sombong, Imam Bukhari sempat berkata, ‘’Saya hafal seratus ribu hadis sahih dan saya juga hafal dua ratus ribu hadis yang tidak sahih.’‘ Ia tak cuma mampu menghafal ratusan ribu hadis, namun juga mampu menyebutkan sanad dari setiap hadis yang diingatnya. 

‘’Dia diciptakan Allah SWT seolah-olah hanya untuk hadis,’‘ tutur Muhammad bin Abi Hatim mengutip perkataan Abu Ammar Al Husein bin Harits yang terkagum-kagum dengan daya ingat dan kecerdasan Imam Bukhari. Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menilai, Imam Bukhari sebagai manusia di muka bumi yang paling kuat ingatannya dalam menghafal hadis. 

Menginjak usia 16 tahun, Imam Bukahri bersama ibu dan saudaranya pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah. Perjalanan pertamanya ke Semenanjung Arab itu dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang ilmu hadis. Imam Bukhari pun berkelana dari satu kota pusat pengetahuan ke kota lainnya. Di setiap kota, ia berdiskusi dan bertukar informasi tentang hadis dengan para ulama. 

Imam Bukhari sempat menetap di sejumlah kota pusat intelektual Muslim, seperti Basrah, Hijaz, Mesir, Kufah, dan Baghdad. Ketika tiba di kota Basrah, penguasa kota itu menyambut dan mendaulatnya untuk mengajar. Kedatangannya di Baghdad—ibu kota pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah—juga mendapat perhatian dari para ulama dan petinggi kota itu. 

Sepuluh ulama hadis di kota itu pun mencoba menguji kemampuan dan daya ingatnya dalam menghafal sabda Rasulullah SAW. Para ulama itu lalu menukarkan sanad dari ratusan hadis. Dalam sebuah pertemuan, para ulama itu lalu menanyakan hadis-hadis yang telah ditukar-tukar sanad-nya itu. 

Namun, Imam Bukhari mengaku tak mengenal hadis yang ditanyakan para ulama Baghdad itu. Lalu, ia membacakan hadis-hadis itu dengan sanad yang benar. Para ulama Baghdad pun terkagum-kagum dengan kecerdasan dan ketelitian sang ahli hadis. Ujian serupa juga dilakukan para ulama di berbagai kota yang disinggahinya. Dan, ujian itu berhasil dilaluinya dengan baik. 

Pada usia 18 tahun, secara khusus, Imam Bukhari mencurahkan pikiran dan waktunya untuk mengumpulkan, mempelajari, menyeleksi, dan mengatur ratusan ribu hadis yang dikuasai dan dihafalnya. Demi memurnikan dan mencapai hadis-hadis yang paling otentik dan sahih, ia berkelana ke hampir seluruh dunia Islam, seperti Mesir, Suriah, Arab Saudi, serta Irak. 

Dengan penuh kesabaran, ia mencari dan menemui para periwayat atau perawi hadis dan mendengar langsung dari mereka. Tak kurang dari 1.000 perawi hadis ditemuinya. Hingga kahirnya, Imam Bukahri menguasai hampir lebih dari 600 ribu hadis, baik yang sahih maupun dhaif. Perjalanan mencari dan menemukan serta membuktikan kesahihan hadis-hadis itu dilakukannya selama 16 tahun. 

Ia lalu kembali ke Bukhara dan merampungkan penysunan kitab yang berisi kumpulan hadis sahih berjudul Al Jami’ Al Sahih. Kitab hadis yang menjadi rujukan para ulama itu berisi 7.275 hadis sahih. Pada usia 54 tahun, dia berkunjung ke Nishapur, sebuah kota di Asia Tengah. Di kota itu, Imam Bukhari diminta untuk mengajar hadis. Salah seorang muridnya adalah Imam Muslim yang juga terkenal dengan kitabnya Sahih Muslim. 

Imam Bukhari lalu hijrah ke Khartank, sebuah kampung di dekat Bukhara. Para penduduk desa memintanya untuk tinggal di tempat itu. Imam Bukhari pun tinggal di Desa Khartank hingga tutup usia pada usia 62 tahun. Ia meninggal dunia pada tahun 256 H/ 870 M. Meski telah meninggal 13 belas abad yang lalu, namun cahaya dari Bukhara itu tak pernah padam dan terus menerangi kehidupan umat Muslim. 

Karya Besar Sang Ulama 

Imam Bukhari tak hanya dikenal sebagai ahli hadis. Sebagai ilmuwan yang produktif, ia juga menulis kitab tafsir, fikih, dan sejarah. Berikut ini adalah beberapa karya besar sang ulama setelah Sahih Al Bukhari. 

• Tarikh Al Kabir • Khalq A’fal Ibad • Kitab Al Wahidan • Kitab Adab Al Mufrad • Kitab Adh Dhua’fa • Juz Raf Al Yadain • Juz Al Quraa Khalf Al Imam • Jami’a Al Kabir • Tafsir Al Kabir • Kitab Al Ilal • Kitab Al Manaaqib • Asami As-Sahabah 

Metode Seleksi Hadis Ala Imam Bukhari 

Imam Bukhari pantas disebut sebagai ilmuwan dan ulama yang profesional. Betapa tidak. Dalam meneliti, menyeleksi, serta menetapkan hadis sahih dari ratusan ribu hadis yang dihafalnya, Imam Bukhari melakukannya dengan sangat hati-hati. Untuk mendapatkan akurasi, ia melakukan perjalanan ke Negara-negara Islam dengan menemui hampir 1.000 perawi hadis. Secara sabar, ia mendengarkan para perawi itu. 

‘’Saya susun kitab Al Jami `Ash Shahihini di Masjidil Haram, Makkah, dan saya tidak mencantumkan sebuah hadis pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah SWT, dan sesudah meyakini betul bahwa hadis itu benar-benar shahih,’‘ ujar Al-Finbari, salah seorang murid Imam Bukhari, mengutip pernyataan gurunya. 

Di masjid bersejarah itulah, Imam Bukhari mulai menyusun buku kumpulan hadisnya yang sangat monumental. Dasar pemikiran dan bab demi bab Sahih Al-Bukahri disusunnya secara sitematis di Masjidil Haram. Sedangkan, pembukaan serta pokok-pokok bahasannya ditulisnya di Rawdah Al Jannah—sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi, Madinah. 

Pengumpulan, seleksi, dan penempatan hadis sahih dalam kitab Sahih Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan modern sehingga hadis-hadisnya dapat dipertanggungjawabkan. Untuk mendapatkan hadis yang benar-benar otentik, secara serius Imam Bukhari meneliti dan menyelidiki para perawi-nya. 

Tak cuma itu, Imam Bukhari pun melaku perbandingan hadis. Satu hadis dengan hadis lain dibandingkan. Ia lalu menguji dan mempertimbangkannya secara ilmiah untuk memutuskan mana yang paling sahih. Keontetikan hadis yang disusun Imam Bukhari sudah sangat terbukti dan teruji. 

Para ulama sepakat, hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Al Jami `ash Shahih memiliki tingkat kesahihan yang paling utama. Profesionalitas yang ditunjukkan Imam Bukhari dalam melacak dan meneliti kesahihan sebuah hadis tak lepas dari bimbingan para gurunya. Beberapa ulama yang berpengaruh dalam kehidupan keilmuwan sang legendaris itu antara lain: Dhahaak Ibnu Mukhlid; Makki Ibnu Ibrahim Khadhali; Ubaidullah Ibnu Musa Abasa; Abdul Quddus Ibnu Hajjaj; dan Muhammad Ibnu Abdullah Anshari. 

Profesionalitas yang ditunjukkan Imam Bukhari juga menetes pada murid-muridnya. Begitu banyak muridnya yang menjadi ahli ilmu hadis yang terkenal dan terkemuka. Mereka adalah Turmudzi, Imam Muslim, Nasa’i, Ibrahim Ibnu Ishaq Al Harawi, Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Dulabi, dan Mansur Ibnu Muhammad Bazduri

Baca selanjutnya ..