on line

Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013

SEHAT ALA ROSSUL

Dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, rupanya tanpa kita sadari, tak boleh sembarangan. Inilah faktor penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain2 penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yg lainnya. Agar tips sehat ala nabi Muhammad ini bermanfaat untuk semua. Tahu nggak? Ini adalah Diet Rasullulah SAW kita juga. Seorang Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.Inidetailmya : *Jangan makan DAGING bersama SUSU *Jangan makan DAGING bersama IKAN *Jangan makan IKAN bersama SUSU *Jangan makan AYAM bersama SUSU *Jangan makan IKAN bersama TELUR *Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD *Jangan minum SUSU bersama CUKA *Jangan makan BUAH bersama SUSU Aturan dan Cara Makan : 1. JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI, SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH TERLEBIH DAHULU, BARU MAKAN NASI. 2. TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI. Dengan syarat agar kita bisa bangun untuk sholat malam. 3. JANGAN SESEKALI TINGGALKAN MAKAN MALAM . BARANG SIAPA YG TINGGALKAN MAKAN MALAM DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL DALAM BADAN AKAN BERGANDA. Memang sulit mengamalkannya, tapi kalau tak percaya cobalah ! Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek atau tidak dalam waktu singkat. Cara makan ini Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti. Dalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita. - Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB - Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan 2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jum’at beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman” (HR Muslim) 3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN Sabda Rasul : “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan) “(Muttafaq Alaih) Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda : Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. 4. GEMAR BERJALAN KAKI Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir,pori- pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung 5. TIDAK PEMARAH Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa. Ada terapi yang tepat untuk menahan marah : - Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring - Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon - Segeralah berwudhu - Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati 6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT 7. TAK PERNAH IRI HATI Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat. ::Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah ( Tercela ) dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah ( Terpuji )

Baca selanjutnya ..

Jumat, 30 Maret 2012

DOSA YANG TAK DIRASA

Saat bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang, tanpa disadari kata-kata mengalir dari mulut kita seolah keluar tanpa beban. Tak jarang, bersamaan dengan keluarnya kata-kata, mengalir pula dosa, mulai dari menggunjingkan tetangga, membanggakan dan memamerkan diri, berbohong, dan perbuatan tidak terpuji lainnya.   Semudah itu manusia melakukan dosa. Bahkan, saking terbiasanya sangat banyak dosa-dosa yang sudah tidak dirasa lagi sebagai perbuatan salah yang berat konsekuensinya. Sebagian besar ulama sepakat bahwa dosa dibagi menjadi dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Namun, berbicara "dosa yang tak dirasa" tidak selalu identik dengan dosa kecil. Pun, "dosa tak dirasa" tidak selalu berarti sebagai kecenderungan orang yang tidak sadar akan perbuatan dosa karena kecilnya. Boleh jadi, jika kita lihat fenomena yang ada, dosa besar sekalipun tidak sedikit dianggap biasa dan tidak lagi dirasa sebagai dosa karena saking seringnya dilakukan. Tentu saja, sikap seperti itu jauh lebih berbahaya dari sekadar mengabaikan dosa yang dianggap kecil. Dengan demikian, secara prinsip tidak ada bedanya antara dosa kecil dan dosa besar karena keduanya memiliki potensi ancaman datangnya azab Allah. Selain keduanya juga memiliki peluang yang sama untuk diampuni Allah Swt. Bisa dikatakan bahwa besar dan kecilnya suatu dosa tidak diukur dengan seberapa besar ancaman siksa yang akan diterima, namun diukur dari seberapa besar kesadaran orang terhadap dosa yang dilakukannya. Boleh jadi dosa itu kecil dan remeh, namun jika dilakukan dengan terus menerus dan tidak disertai istighfar, ia akan menjelma menjadi dosa besar. Pun sebaliknya, boleh jadi dosanya besar, namun karena kesadaran tinggi akan akibat yang ditimbulkan, mendorongnya untuk bertobat dan tidak mengulanginya lagi, maka dosa tersebut sebetulnya menjadi kecil bahkan terhapus di hadapan Allah. Besar kecilnya suatu dosa juga tidak bisa sepenuhnya dilihat dari jenis dosa tersebut. Terutama untuk menentukan jenis-jenis dosa kecil. Sejauh yang dapat saya amati dari sejumlah kitab-kitab rujukan, jarang sekali para ulama yang mengungkap secara rinci apa saja yang termasuk dosa kecil. Relativitas kecilnya dosa menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada yang besar jika disertai tobat dan tidak ada yang kecil jika dilakukan terus menerus. Sementara, khusus mengenai jenis-jenis dosa besar, cukup gamblang diungkap dalam sejumlah ayat dan hadits.

Baca selanjutnya ..

Kamis, 14 April 2011

Memelihara Lisan

Memelihara Lisan

Terjadinya kekacauan, pecahnya golongan dan waktu terbuang sia-sia. Dan ketika menyelidi sumber utamanya, engkau menemukan kecahatan pertama berawal dari kata-kata kotor, atau tuduhan kemarahan, atau informasi yang keliru… ini adalah sebagian dari hasil penggunaan lisan yang salah, saat masih berada di dunia.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan: memelihara lisan adalah menahan diri dari ucapan yang tidak diperbolehkan secara syara', yang tidak dibutuhkan oleh pembicara.1 Dan an-Nawawi menjelaskan cara memelihara lisan, ia berkata: 'Sepantasnya bagi orang yang ingin berbicara satu kata atau satu kalimat, agar dia lebih dulu merenungkannya dalam dirinya sebelum menuturkannya, jika jelas manfaatnya, ia berbicara, dan jika tidak, ia menahan diri dari berbicara.'2 Dan catatan mendasar untuk memelihara lisan adalah: tidak terburu-buru dalam berbicara, berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata, menimbang kata-kata dalam timbangan syara', dan mengharapkan manfaat dalam Islam. Dan jika tidak demikian, hendaklah orang yang berbicara menahan keinginannya dan tidak berbicara.


Maka sesungguhnya hal itu merupakan keselamatan, dan ia lebih baik baginya. Dan karena itulah terdapat dalam hadits:
فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنَ الْخَيْرِ
'Maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan.'3
Yang memberi pengertian bahwa sesungguhnya pada dasarnya adalah diam dan menahan diri dari berbicara.
Dan tatkala Uqbah bin 'Amir  bertanya kepada Rasulullah : 'Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?' Beliau menjawab:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ, وَلَيَسَعْكَ بَيْتُكَ, وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ
"Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu meluaskanmu, dan tangisilah kesalahanmu."4
Dan di dalam al-Bukhari:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah  dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."5
Hal itu disebabkan sebagian besar omongan seseorang, terkadang pada yagn sia-sia atau yang haram. Seperti yang dijelaskan dalam hadits:
كُلُّ كَلاَمِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لاَ لَهُ, إِلاَّ أَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ أَوْ نَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ ذِكْرُ الله
"Setiap pembicaraan manusia membahayakannya, tidak bermanfaat baginya, kecuali yang menyuruh perbuatan ma'ruf atau menahan dari yang mungkar, atau zikir kepada Allah ."6
Mu`adz bin Jabal  menceritakan tentang perjalanannya bersama Rasulullah , ia bertanya kepada beliau, 'Ya Nabiyullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.' Maka Rasulullah  menyebutkan pintu-pintu kebaikan. Setelah itu beliau bersabda: "Maukah engkau aku beritahukan kendali semua itu?' Maka aku berkata,'Tentu, wahai Rasulullah.' Lalu beliau memegang lisannya seraya berkata, 'Tahanlah ini.' Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, Apakah kami dihukum karena ucapan kami?' Beliau berkata, 'Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu'adz. Dan tidaklah menjerumuskan manusia di dalam neraka selain hasil panen lisan mereka.'7 Dan at-Thabrani menambah dalam riwayatnya: 'Kemudian, sesungguhnya engkau tetap selamat selama engkau diam. Maka apabila engkau berbicara, niscaya ditulis atasmu atau untukmu."8
Dan di antara yang menuntut lebih berhati-hati dari dampat ucapan lisan, sesungguhnya seseorang terkadang keliru dalam berbicara karena kelalaian darinya, maka menjerumuskan dalam neraka:
...وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِيْ بِهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ.
"…Dan sesungguhnya hamba berbicara dengan ucapan yang menyebabkan kemurkaan Allah , yang tidak diperdulikannya, yang menjerumuskannya ke dalam neraka."9
Ibnu Hajar berkata: 'Yang tidak diperdulikannya' maksudnya: ia tidak memikirkan bahaya dan akibatnya, dan ia tidak menyangka bahwa kata-kata itu memberikan dampak negatif. Maka sebelum kata-kata keluar dari mulutmu, berikanlah dirimu untuk berpikir, apakah yang akan engkau katakan menyebabkan ridha Allah  atau murkanya? Apakah ia termasuk kata-kata yang baik atau kotor? Apakah kesudahannya baik atau buruk? Dan selama belum keluar dari mulutmu, maka engkau memilikinya. Maka apabila telah keluar, niscaya menjadi tawanannya.
Sebagaimana ucapan yang baik memasukkan pelakunya di dalam iman, maka banyak sekali ucapan yang memberikan dampak terhadap keimanan pelakunya, ia menjadi munafik atau keluar dari agama. Di dalam hadits Hudzaifah : 'Sesungguhnya seorang laki-laki berbicara dengan satu kata di masa Rasulullah , maka ia menjadi munafik karena ucapan itu. Dan sesungguhnya aku mendengarnya dari seseorang dari kamu sepuluh kali di dalam majelis.'10 Dan di dalam hadits shahih: seseorang berkata kepada Ibnu Umar : 'Sesungguhnya kami berkunjung kepada para pemimpin, lalu kami mengucapkan kata-kata. Apabila kami keluar, kami mengatakan yang lain.' Ibnu Umar  menjawab: 'Di masa Rasulullah , kami menganggap hal itu termasuk sifat munafik.'11
Melatih diri adalah dengan membiasakan lisan untuk mengucapkan yang baik dan menjaganya dari yang buruk. Diriwayatkan bahwa Isa bin Maryam  bertemu babi di tengah jalan. Maka ia berkata kepadanya: 'Lewatlah dengan selamat' Maka beliau ditanya: 'Engkau mengatakan hal ini kepada babi?' Isa  menjawab: 'Sesungguhnya aku khawatir membiasakan diriku mengucapkan yang buruk.'12 Maka ucapan yang baik adalah dengan latihan dan kebiasaan, dan ucapan yang buruk juga seperti itu. Dan bagi setiap orang bersama lisannya menurut kebiasaannya. Maka dengan sedikit kesungguhan terjagalah lisan, dan dalam kelalaian sejenak menjadi terumus.
Para sahabat Rasulullah  berhati-hati dari ucapan yang mubah (dibolehkan) karena khawatir terjerumus dalam ucapan yang haram, karena bersungguh-sungguh dalam memelihara lisan dan menjaga agama. Maka barangsiapa yang ingin keselamatan, hendaklah ia menjauhi majelis-majelis ghibah (mengupat) dan menjaga lisannya dari tergelincir, tidak mengatakan kecuali yang baik. Dan hendaklah ia dan teman-temannya saling memberi nasehat menjaga lisan, dan meminta pertolongan kepada Allah . Rasulullah  mengajarkan para sahabatnya berlindung kepada Allah  dari kejahatan lisan.
قُلْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِيْ وَشَرِّ بَصَرِي وَشَرِّ لِسَانِي وَشَرِّ قَلْبِي وَشَرِّ مَنِيِّي.
"Bacalah: aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, kejahatan lisanku, kejahatan hatiku, kejahatan air maniku."13
Berlindung kepada Allah  dari kejahatan lisannya terhadap kaum muslimin dan manis ucapannya bersama selain mereka.
Dan Rasulullah  pernah ditanya: 'Islam apakah yang paling utama?' Beliau menjawab:
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
'Orang yang selamat kaum muslimin dari (kejahatan) lisan dan tangannya."14
Di antara memelihara lisan adalah menjaganya dari pembicaraan yang tidak berguna dan tidak penting, maka sesungguhnya Rasulullah  mengarahkan kepada setiap muslim agar mengambil keuntungan dalam segala hal yang penting:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
"Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak berguna."15
Ibnu Majah menyebutkan hadits dalam bab menahan lisan dalam fitnah (suasana kacau), karena begitu termasuk keburukan lisan adalah penggunaannya yang tidak terkendali dalam penyebaran berita dan menyalakan api fitnah. Dan dalam riwayat lain yang diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya:
إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةُ الْكَلاَمِ فِيْمَا لاَ يَعْنِيْهِ
"Sesungguhnya di antara kebaikan islam seseorang adalah sedikit pembicaraan dalam perkara yang tidak berguna."16
Penggunaan lisan yang terbaik adalah amar ma'ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari perbuatan mungkar), dan berdakwah kepada Allah , hal itu merupakan kedudukan yang tertinggi. Dan yang paling rendah adalah menahan lisan, selalu diam, menahan diri dari kehormatan orang lain, dan menjaga dari segala keburukan.

Baca selanjutnya ..

Agar Mudah Bangun Utk Sholat Subuh

Agar Anda mudah bangun untuk shalat subuh

الحمد لله الحليم الكريم رب العرش العظيم ، وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وآله وسلم تسليما أما بعد:
Di hari-hari di musim panas ini banyak masjid mengalami kemunduran yang besar, terutama dalam jumlah jamaah solat subuhnya, disebabkan pendeknya waktu malam dan tenggelamya kebanyakan orang dalam prilaku bergadang yang berlebihan…
Bahkan banyak dari kalangan orang-orang baik terjerumus dalam fitnah ini, diantaranya sebagian imam-imam dan muadzin, kedudukan mereka bisa menimbulkan dampak yang lebih besar, karena mereka memikul tanggung jawab, kelalaian mereka dapat berimbas terhadap jamaah masjid
Keutamaan solat subuh berjamaah sangatlah besar, sedang melalaikanya adalah berbahaya, meski hanya dua hadits cukuplah menunjukan hal itu, dua hadits itu adalah:
عن عثمان رضي الله عنه عن الرسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « من صلى العشاء في جماعة ، فكأنما قام نصف الليل ، ومن صلى الصبح في جماعة ، فكأنما صلى الليل كله » . رواه مسلم
“ Dari Utsman bin Affan r.a. dari Rasulullah saw ia bersabda: “ Barang siapa solat isya‘ berjamaah, maka seakan-akan ia solat separuh malam, dan barang siapa solat subuh berjamaah, maka seakan-akan ia solat malam seluruhnya”. (HR: Muslim).


Dan hadits Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw ia bersabda:
« إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء ، وصلاة الفجر ، ولو يعلمون ما فيها لأتوهما ولو حبوا ، ولقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام ، ثم آمر رجلا فيصلي بالناس ، ثم انطلق معي برجال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار » . متفق عليه .
“ Sesungguhnya solat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah solat isya’ dan solat subuh, kalau sekiranya mereka mengetahui apa yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangai keduanya meski dengan terjatuh, dan sunggguh aku telah berhasryat untuk memerintahkan seseorang agar mendirikan solat, kemudian akau meminta seseorang agar menjadi imam, lalu aku pergi bersama orang-orang membawa kayu bakar kepada kaum yang tidak hadir solat, lalu aku bakar mereka dengan rumah-rumah mereka dengan api.” (HR: Bukhari Muslim).
Dan saya akan menyertakan bersama sarana-sarana tersebut beberapa kisah dan peristiwa yang terjadi pada sebagian salaf agar kita dapat melihat sejauh mana perhatian mereka terhadap hal itu:
Pertama:
Dalam kitab musnad Abdurrozak 1/526:
Dari Ma’mar dari az-Zuhri dari Sulaiman bin Abi Hatsamah dari as-Syifa’ binti Abdullah ia berkata:(( Umar masuk ke rumahku, ia mendapatkan dua orang laki-laki sedang tidur di sisiku, ia berkata: apa yang terjadi pada kedua orang ini, mereka tidak ikut solat bersamakau?, aku menjawab: wahai Amirul mukminin mereka berdua telah solat bersama orang-orang – saat itu dalam bulan ramdhan – mereka berdua solat terus menerus hingga subuh, lalu mereka solat subuhkemudian tidur, Umar berkata: sungguh solat subuh berjamaah bagiku lebih aku cintai dari pada aku solat semalam hingga subuh)).
Kedua:
Dalam kitab musonnaf Abdurrozak 1/527:
Dari Abdurrozak bin Abi Ruwad dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata: (( Dahulu jika ia mendapatkan isya‘ bersama orang-orang maka ia solat beberapaa rakaat kemudian tidur, dan apabila tidak mendapatkanya dengan jamaah maka ia menghidupkan malamnya, ia berkata: sebagian keluarga Ma’mar memberitahuku bahwa ia melakukan itu, lalu aku sampaikan hal itu kepada Ma’mar maka ia berkata: dahulu Ayub melakukan hal itu)).
Ketiga:
Abu Nuaim berkata dalam kitab hilyatul auliya’ 12/9:
Ahmad bin Is’hak bercerita kepada kami, Abdurrahman bin Muhammad bercerita kepada kami, Abdurrahman bin Umar bercerita kepada kami, Yahya bin Abdurrahman bin Mahdi bercerita kepadaku: bahwa bapaknya qiyamullail – yakni menghidupkan seluruh malamnya dengan solat - , dan tatkalah terbit fajar ia melempar dirinya ke ranjang – yakni tidur – dan melalaikan solat subuh hingga terbit matahari, maka ia mengatakan: ini adalah kesalahan ranjang ini terhadapku, maka ia memberi sangsi terhadap dirinya dengan tidak akan memakai alas apapun dalam tidurnya, dan ia juga mendera dirinya selama dua bulan hingga kedua pahanya terluka seluruhnya.
Keempat:
Khatib al-Baghdadi berkata dalam kitab tarikh Baghdad 10/320:
Muhammad bin Ahmad bin Rozak memberitahu kami, ia berkata: aku mendengar Abulqosim Ali bin al-Hasan bin Zakariah al-Qothi,i as-Sya’ir berkata: aku mendengar Abulqasim Abdullah bin Muhamad bin Abdullah al-Aziz al-Baghowi berkata: aku mendengar Ubaidillah bin Umar al-Qowariri berkata: Hampir aku tidak pernah melalaikan solat isya' dengan berjamaah, lalu datang seorang tamu aku disibukan denganya, setelah itu aku keluar untuk mencari solat jamaah di kabilah-kabilah Bashrah, namun semua orang ternyata telah selesai solat, aku berkata dalam hatiku: diriwayatkan dari Rasulullah saw baahwa beliau bersabda:
صلاة الجميع تفضل على صلاة الفذ إحدى وعشرين درجة
“ Solat berjamaah lebih utama atas solat sendirian dengan dua puluh satu derajat” dan diriwayatkan “ dua puluh lima derajat” dan diriwayatkan “ dua puluh tujuh derajat” lalu aku pulang ke rumahku dan aku solat isya' di waktu yang terakhir dua puluh tujuh kali, kemudian aku tidur, aku bermimpi sedang mengendarai kuda bersama kaum, aku naik kuda seperti kuda-kuda mereka, kami saling berkejaran dan kuda-kuda mereka mendahului kudaku, aku pukul kudaku agar menyusul mereka, aku menoleh ke salah seorang dari mereka yang paling belakang, ia mengatakan; jangan kau paksa kudamu, kamu tidak berhak atas apa yang kami miliki, aku berkata: kenapa begitu? Ia berkata: karena kami solat isya' berjamaah.
Kelima:
Abu Nu’aim berkata dalam kitab al-hilyah 6/183:
Ibrahim bin Abdul Malik bercerita kepada kami, Muhammad bin Ishak bercerita kepada kami, Qutaibah bin Sa’ad bercerita kepada kami, Marwan bin Salim alQory bercerita kepada kami, Mas’adah bin al-Yasa‘ al-Bahili bercerita kepada kami dari Sulaiman bin Abi Muhamad, Ghalib al-Qathon bercerita kepada kami bahwa orang-orang datang kepada beliau saat pembagian warisan untuk mereka, ia membagi warisan itu kepada mereka semua, hingga waktu sore, maka ia kembali ke tempat tidurnya dalam keadaan letih, lalu ia bersandar ke satu masjid miliknya, lalu tertidur, datang seorang mu’adzin bertatswib, maka berkatalah wanita kepadanya: Bukankah kamu melihat mu’adzin- semoga Allah merahmatimu – ia bertatswib di atas kepalamu?, ia mengatakan: Dasar kamu biarkan aku, kamu itu tidak tahu apa yang telah terjadi padaku hari ini, lalu ia (mu’adzin) bertatswib terus menerus dan setiap kali itu pula wanita tersebut membangunkanya dan ia selalu mengatakan biarkan aku, hingga sampai pertengahan malam ia bangun dan solat dalam keadaan tidak ingat dan tidak tahu beberapa kali imam solat, lalu ia mengulang solat al- maktubah (wajib itu) sebanyak dua puluh empat kali, kemudian ia tidur, ia bermimpi pergi dari rumahnya ke suatu kedai,di perjalanan ia menemukan uang empat dinar, ketika itu ia membawa kantong yang memiliki tiga pintu, maka ia memasukan uang dinar tersebut ke dalam salah satu pintu kantong, ia bercerita: Aku diam sejenak, tiba-tiba ada orang yang mencari dinar-dinar itu dengan menyebut terus-menerus empat dinarnya yang hilang, maka aku sembunyi darinya, kemudian setelah itu aku memanggilnya, aku berkata kepadanya: wahai pemilik dinar, ini adalah dinarmu, aku berpaling untuk membuka kantong dan memberikan dinar-dinar itu kepadanya, namun ternyata kantongnya sobek dan dinar-dinar itu lenyap!, aku berucap: wahai pemilik dinar sungguh dinar-dinarmu hilang, ambilah gantinya, maka ia memegang sisi bajuku dan mengatakan: Aku tidak mau terima kecuali dinar-dinarku yang sama seperti aslinya, lalu aku terbangun saat ia masih memegang sisi bajuku, lalu aku pergi kepada Ibnu Sirin, aku ceritakan kejadian itu kepadanya, ia berkata: Adapun tertakait kamu tertidur dari solat isya‘, maka beristighfarlah dan jangan kamu ulangi lagi.
Sulaiman berkata: Dan Golib al-Qottoni bercerita kepadaku: Kemudian aku diuji dengan kejadian serupa, aku bersandar pada masjid tersebut, lalu mua’dzin mengumandangkan azan dan bertatswib, setiap kali itu pula wanita tersebut membangunkanku - semoga Allah merahmatimu- dan aku tidur hingga waktu yang sama dengan waktu aku tidur pada kali yang pertama, lalu aku bangun dan solat sebagaimana aku solat pada kali yang pertama, kemudian aku tidur lagi, aku melihat dalam mimipi bahwa aku dan sahabat-sahabatku menunggang keledai kelabu yang cepat, sedang orang-orang di depan kami mengendarai unta, mereka tidur di atas permadani yang dihamparkan di atasnya, mereka berjalan pelan, sedang aku dan sahabat-sahabatku berusaha keras untuk menyusul mereka hingga kami kepayahan, maka kami memanggil: Wahai para pengendara ada apa ini, kami mengendarai keledai keledai yang cepat, sedang kalian mengendarai unta dengan pelan, kami berusaha untuk menyelip kalian namun tidak bisa?. Para pengendara itu menjawab: Sesungguhnya kami adalah kaum yang ikut solat jamaah isya‘ yang akhir, sedang kalian solat sendirian, maka kalian tidak akan dapat menyusul kami. Ia berkata: lalu aku bergegas pergi kepada Muhamad bin Sirin, aku bercerita kepadanya ( tentang hal itu), maka beliau menjawab: ia (penjelasanku) sebagaimana yang kamu mimpikan...
Abdullah bin Muhamad bin Ja’far bercerita kepada kami, Abdullah bin Muhamad bin Imron bercerita kepada kami, pamanku Ayub bin Imron bercerita kepadaku, ia berkata: Aku dapat cerita dari Ghalib al-Qattani, ia berkata: Aku tertinggal solat isya‘ berjamaah, maka aku solat dua puluh lima kali untuk menggapai keutamaan, kemudian aku tidur, aku melihat dalam mimpi bahwa aku mengendarai kuda yang berlari kencang, sedang mereka di atas kendaraan dan kami tidak dapat mengejar mereka, maka dikatakan: itu karena mereka solat berjamaah sedang anda solat sendirian. ( Dan ada banyak riwayat lain yang mengkisahkan cerita ini dalam kitab al-hilyah).
Keenam:
Dalam kitab (( Jawaanib min siroh al-Imam Abdul Aziz bin Baz)) hal 79, disebutkan:
Pada suatu hari Syekh Abdullah bin Baz punya janji setelah solat subuh. Namun beliau tidak solat di masjid, maka setelah solat kami pergai ke rumahnya, kami menunggu beliau, kami mengkhawatirkanya, lalu beliau keluar menemui kami, beliau menanyakan waktu, kami memberitahunya bahwa solat berjamaah telah selesai.
Ketika itu beliau – semoga Allah memberinya rahmat – letih pada malam harinya, beliau tidur sangat terlambat, dan setelah solat tahajud beliau berbaring dan tertidur, sedang tidak ada satu orang pun yang membangunkanya, atau membunyikan untuknya alarm jam, dan setelah beliau tahu bahwa orang-orang telah solat maka beliau solat dan berkata kepada dua sahabatnya, yaitu; Syekh Abdurahman al-Atiq dan Hamad bin Muhamad an-Nasir: ini adalah kali pertama aku ketingalan solat subuh!
Aku berkata: Semoga Allah merahmati mereka, begitulah mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah dan muhasabah diri di saat melakukan kesalahan terkecilpun, jiwa-jiwa mereka bersih, obsesi mereka tinggi, dan mereka dikenang selamanya oleh orang-orang yang datang setelahnya...
Aku tidak tahu apakah masih ada hari ini orang-orang yang ketika ketinggalan solat lalu merasakan seperti yang mereka rasakan?!, para pelajar dan orang-orang soleh yang ketinggalan solat subuh berkali-kali itu, padahal mereka tidak menghidupkan malamnya dengan tahajud, tidak juga sepersepuluh malamnya, atau bahkan sepersepuluh dari sepersepuluh malamnya! Kemudian mereka tidak merasa sakit, tidak pula sedih, seakan-akan tidak punya dosa?!.
Bahkan anda bisa melihat sebagian mereka telah memiliki tradisi yang berkelanjutan, datang sekali dan absen berkali-kali, dan kalaupun hadir pasti terlambat, sehingga menjadi bahan pertanyaan dan sumber keraguan bagi orang-orang awam!
Ini adalah sisi lain dari banyak dampak permasalahan, perhatikan tokoh ini dalam pandangan meraka, omonganya tidak lagi dipercaya, begitu juga ilmu dan nasehatnya. Pernah terjadi seseorang dari kalangan awam menyalahkan anak-anaknya yang ketinggalan solat subuh, lalu ia membentak salah satu dari mereka saat berusaha membangunkanya, anak itu berucap: Jangan ganggu aku, pergi dan beri nasehat syekh(imam) terlebih dahulu!
Dan memang imam mereka suka absen dari solat subuh berjamaah.
Sekarang mari kita masuk dalam pembahasan tentang sarana-sarana yang dapat membantu kita agar mudah untuk bangun menunaikan solat subuh:
1.Sarana yang paling utama adalah bertaqwa kepada Allah SWT, memperhatikan perintah solat berjamaah. Apabilah seorang muslim memiliki perhatian terhadap perintah Allah terkait solat berjamaah, maka ia akan menemukan – dengan izin-Nya – kemudahan untuk bangun menunaikan solat subuh. Ini adalah sesuatu yang telah terbukti, seseorang yang tersibukan perhatianya dengan sesuatu, ia sering kali tidak akan nyenyak dalam tidurnya, ini sesuatu yang wajar, bahkan hal tersebut terjadi juga pada anak kecil, ketika ia dijanjikan akan diajak pergi tamasya di pagi hari, ia pasti bangun sebelum yang lainya, meski tidak ada seorangpun yang membangunkanya.
2.Tidur di waktu awal (tidak larut malam), dan banyak orang yang mengetahui dengan detail batas waktu kapan ia harus tidur agar dapat bangun subuh, dan jika melampaui batas waktu tersebut ia pasti akan ketinggalan solat, maka dalam kondisi ini ia tidak boleh bergadang hingga melewati batas waktu yang dapat menyebabkanya jatuh ke dalam kelalaian dalam menunaikan kewajiban ini.
3.Menggunakan alat-alat peringatan seperti alarm jam, handphone,dll. Namun ada sebagian orang yang karena terlalu nyenyak tidur hingga tidak dapat mendengar bunyi alarm, dan ada juga sebagian orang yang setiap kali mendengar bunyinya mematikanya tanpa kesadaran.
Dan ada beberapa cara untuk mengeraskan suara alarm, diantaranya:
Meletakanya di panci, atau membalikan panci dan meletakan alarm di atasnya, maka suaranya akan lebih tinggi. Begitu pula handphone, letakan dengan bel getar, dan taruh di atas panci, dan jika kamu di kamar dan kamu pakai panci yang yang melengkung-lengkung (tidak rata sisi-sisinya), maka bunyi suaranya akan menjadi seperti gempa, dan dapat membangunkan tetangga!
Adapun terkait orang yang suka secara tidak sadar mematikan alarm, maka bisa di atasi dengan memperbanyak alarm dan membedakan waktu bunyi masing-masing alarm, misalnya dengan memberi jarak antara masing-masing dengan beberapa menit, atau dengan cara mempencar tempat masing-masing alarm.
4.Memanfaatkan teknologi pendingin pada musim panas. Sebagian AC dilengkapi dengan menu yang dapat mengatur waktu nyalah dan mati, dengan demikian dapat dilakukan setting mati satu jam atau beberapa jam sebelum waktu bangun yang diinginkan. Adapun AC yang tidak dilengkapi dengan teknologi ini, dapat ditambah dengan memasang alat kecil yang disebut dengan timer, caranya dipasang di dinding dapat dapat mengatur lama nyala AC selama dua belas jam, misalnya anda tidur jam satu malam, sedang anda ingin bangun jam tiga, maka letakan alat itu pada angka dua, sehingga Ac akan bekerja selama dua jam kemudian langsung mati setelah itu. Panas cukup dapat mengurangi tidur nyenyak meski mungkin masih belum dapat membangunkanmu sebelum bel alarm menyala.
5.Dan diantara sarana-sarana untuk membangunkan adalah banyak minum sebelum tidur, dan tidak pergi ke toilet, niscaya rasa ingin buang air akan dapat membangunkanmu tanpa harus menggunakan jam alarm, dengan mencoba anda akan tahu kemanjuran cara ini, dan bagaimana cara ini dapat membantumu bangun pada waktu yang tepat.
6.Terkadang manusia terpaksa harus bergadang karena suatu tuntutan, hingga ia merasa tidak akan dapat bangun pada waktu solat, maka solusinya adalah dengan merubah posisi tidur, atau merubah alas tidurnya, misalnya tidur di atas lantai tanpa alas, atau tanpa bantal di luar kamar tidurnya, dan begitu seterusnya selalu melakukan perubahan-perubahan yang dapat mengusir tidur yang nyenyak dan dapat meringankan proses bangun.
Inilah yang terlintas dalam benak sekarang, barangkali ada hal-hal yang terlintas dalam benak anda yang dapat menjadi point tambahan.
Wallahu a'lam semoga solawat dan salam senantiasa tercurah kepada Muhamad, keluarga dan sahabatnya.

Baca selanjutnya ..