Ungkapan 'insya Allah' bukan hal yang asing bagi kita umat Islam, dan ucapan tersebut termasuk salah satu kalimat thoyyibah, yaitu kalimat yang baik untuk diamalkan. Di lain pihak, kalimat yang mengandung do'a dan pengharapan tersebut, oleh sebagian besar masyarakat kita belum dapat dipahami makna dan urgensinya secara benar. 'Insya Allah' yang memiliki arti “jika Allah menghendaki” seringkali disalah-tempatkan dalam penggunaannya, hanya karena lantaran kita merasa sebagai orang yang berbudaya timur, yang tidak pantas untuk berkata tidak. Sebagai contoh, ketika kita diajak atau diundang untuk suatu kegiatan, kita cenderung untuk mengatakan 'insya Allah', padahal kita sudah mengetahui sejak awal bahwa kita tidak dapat memenuhi ajakan atau undangan tersebut dengan alasan tertentu. Terkadang kita terlalu optimis akan dapat melakukan sesuatu hal dan merasa yakin untuk dapat memberikan hasil atau kontribusi yang telah dijanjikan, namun bagi orang yang beriman seharusnya tidak melupakan dan tidak merasa aman dari rekayasa Allah ('adamul amni min makrillah) Nabi Muhammad Saw pernah ditegur oleh Allah SWT ketika beliau terlupa mengucapkan kalimat 'insya Allah' sewaktu Nabi berdialog dengan utusan dari suku Quraisy yang bernama An Nadhar bin Al Harits dan 'Uqbah bin Abi Mu'ith. Mereka bertanya kepada Nabi tentang kisah Ashabul Kahfi, Zulkarnain dan roh, lalu beliau menjawab “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu”. Sampai batas waktu yang dijanjikan, Allah belum menurunkan wahyu untuk menanggapi ketiga pertanyaan tersebut, sehingga Nabi tidak dapat menjawabnya. Setelah lima belas hari berlalu, barulah Allah menurunkan ayat yang menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Teguran Allah tersebut diabadikan dalam QS Al Kahfi [18]: 23-24. “Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku, agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) dari pada ini.” Bukhari Muslim meriwayatkan, suatu hari Nabi Sulaiman as berkata, “Malam in aku akan menyetubuhi 60 atau 70 istriku sehingga mereka hamil. Lalu, setiap istriku akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi penunggang kuda mujahid fisabilillah.” Namun nabi Sulaiman as lupa mengucapkan 'insya Allah.' Malam itu Nabi Sulaiman as berhasil menyetubuhi 60 atau 70 istrinya, tetapi yang hamil hanya salah satu istrinya saja. Dan saat melahirkan, kondisi fisik anaknya tidak sempurna. Rasulullah Saw bersabda, “Kalau saja Nabi Sulaiman as mengucapkan insya Allah, niscaya mereka akan berjihad di jalan Allah sebagai penunggang kuda semuanya.” (HR Bukhari Muslim). Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan,“Semua wanita itu akan hamil (dan melahirkan) putra yang berjihad di jalan Allah.” Alquran mengabadikan beberapa pelajaran tentang penggunaan kalimat 'insya Allah' yang dapat kita ambil hikmahnya. Di antaranya, dialog yang sangat santun antara seorang ayah dengan putranya. Ibrahim as. berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu?” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As Shaffat [37]: 102). Wallahu a'lam bish shawab
Baca selanjutnya ..on line
Senin, 01 Oktober 2012
Rabu, 19 September 2012
PAHALA KETIKA BERBICARA
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya. Semua kata yang keluar dari lisan seorang muslim seharusnya punya konsekuensi yang lebih besar dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ini disebabkan seorang muslim berbicara diawali dengan pemahaman atas apa yang dia bicarakan dan pemahaman atas konsekuensi-konsekuensi dari apa yang dia bicarakan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Pemahaman atas apa yang dia bicarakan membuat seorang muslim tidak bicara seenaknya sendiri. Ilmu menjadi dasarnya, baik ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal, bahkan ilmu dari pengalaman hidup sekalipun. Pemahaman terhadap ilmu ini akan membuat seorang muslim bisa bijaksana memilah kata-kata yang tepat, sesuai dengan latar belakang dan kecenderungan orang yang diajak bicara. Pengetahuan tentang konsekuensi atas apa yang dia bicarakan pun akan mendorong seorang muslim untuk menjaga lisannya agar hanya mengeluarkan kata-kata terbaik yang mengandung kemanfaataan dan keselamatan bagi orang lain. Bukan sekedar kata-kata basa-basi dengan harapan mendapat decak kagum dari orang lain. Bukan juga kalimat-kalimat manis yang diluncurkan hanya untuk tujuan-tujuan dan kepentingan pribadi, tanpa ada nilai manfaatnya bagi orang lain. Dalam beberapa hal, ini masih bisa ditolerir pada batas-batas tertentu. Namun bila kemudian menjadi kebiasaan yang berkepanjangan dikhawatirkan bisa menjerumuskan kita pada kata-kata dusta tanpa kita sadari, hanya untuk tujuan ini; tujuan pengakuan dari orang lain. Sungguh, sebuah kebohongan yang kita ucapkan sekali, dan kemudian kita ulangi kedua kali bahkan sampai ketiga kalinya tanpa adanya penyesalan akan menjadikan kita terbiasa olehnya. Satu kata kebaikan yang keluar dari lisan seorang muslim pun punya konsekuensi bahwa dialah orang pertama yang melaksanakan kata-katanya tersebut. Apa pun kata-kata itu; diucapkan langsung ataupun dalam bentuk tulisan. Bukan suatu yang mudah memang. Kadang tuntutan ini membuat kita jadi takut mengajak orang lain pada kebenaran. Akhirnya kita lebih memilih diam. Padahal satu kebaikan yang kita sebarkan melalui kata-kata kita, kemudian orang lain ikut melaksanakan, maka pahalanya akan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya sedikit pun. Apalagi jika kebaikan itu terus menyebar dan dilaksanakan oleh banyak orang, terus dan terus. Begitu murahnya Allah memberikan balasan berlipat-lipat atas kebaikan yang telah kita ucapkan kepada orang lain, walau itu hanya sepatah kata. Jika kemudian Allah juga menuntut kita untuk melaksanakan kata-kata kita, itu bukan bermaksud untuk memberatkan, tapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa apa pun yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Berbicara untuk kebaikan dan kemanfaatan akan mudah kita lakukan jika ini sudah menjadi kebiasaan.Tanpa diatur terlebih dahulu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Mudah dan ringan. Tentu saja bagi yang belum terbiasa harus memformat awal semua kebaikan di dalam kepala dan hati kita, kemudian kita ingatkan diri kita untuk mengulanginya kembali, melaksanakan sedikit demi sedikit apa yang kita mampu, berulang-ulang, sampai kemudian menjadi kebiasaan yang keluar secara otomatis. Yang jelas memang butuh waktu dan proses. Dengan demikian gagasan-gagasan dan emosi yang tersimpan di kepala dan hati bisa kita keluarkan dengan lebih baik, tanpa menimbulkan kesia-siaan bagi diri kita juga bagi orang lain. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sangat besar kemurkaan Allah atas apa yang kamu katakan tapi tidak kamu perbuat.” (ash shaff : 2-3). Wallahu a’lam
Baca selanjutnya ..Kamis, 06 September 2012
Halalbihalal 2
Ini adalah tulisan Halalbihalal(nulisnya hrs gandeng/sesuai bhs yg benar) yang kedua bagi saya. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri dan Halalbihalal bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan; saling terkait mempercantik nuansa masing-masing. Saling memaafkan dan menyambung tali silaturrahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam. Setiap saat kaum Muslim harus mengindahkan ajaran ini tanpa memandang hari dan momen tertentu. Jadi tidak terbatas saat Idul Fitri saja. Bahkan secara tegas Allah Swt. akan melaknat orang yang memutuskan tali persaudaraan (QS. Muhammad: 22-23). Rasulullah juga menyabdakan yang artinya, "Tidak ada dosa yang pelakunya lebih layak untuk disegerakan hukumannya di dunia dan di akhirat daripada berbuat zalim dan memutuskan tali persaudaraan." (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi). Betapa pentingnya memelihara hubungan persaudaraan agar tidak kusut, sampai-sampai Allah dan Rasul-Nya menegaskan laknat besar sebagai ganjaran bagi pemutus tali silaturrahmi. Bahkan urgensitasnya tampak begitu jelas manakala memelihara silaturrahmi ini dikaitkan dengan keimanan seorang Muslim. Seperti dalam hadits, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka sambunglah tali silaturrahmi." (HR. Al-Bukhari). Kegiatan ini juga sangat banyak nilai positifnya bagi kehidupan duniawi. Rasulullah menyabdakan, "Siapa saja yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan pengaruhnya, maka sambunglah tali persaudaraan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Halalbihalal menjadi momen yang sangat tepat untuk memperbaharui dan mempererat persaudaraan. Aktivitas manusia yang begitu sibuk, bahkan sering mengharuskannya jauh dari kerabat, sangatlah membutuhkan suasana Halalbihalal. Paling tidak agar acara tahunan itu benar-benar menjadi perhatian khusus untuk ber-silaturrahmi dan saling memafkan bagi semua pihak. Ketimbang jikalau tidak ada acara tahunan seperti itu, mungkin kesibukan akan meleburkan perhatian mereka akan pentingnya ber-silaturrahmi. Saling maaf-memaafkan pada saat Idul Fitri dan Halalbihalal bukan berarti mengkhususkan maaf hanya pada momen itu saja. Terlebih dikatakan sebagai menambah-nambahi syariat (bid'ah). Yang terpenting adalah Muslimin meyakini bahwa saling memaafkan tidak memiliki batas waktu. Karena, jika sampai meyakini bahwa memaafkan dan silaturrahmi hanya berlaku saat Idul Fitri atau Halalbihalal saja, itulah yang salah secara syariat. Halalbihalal adalah salah satu bukti keluwesan ajaran Islam dalam implementasi nilai-nilai universalnya. Nilai universal silaturrahmi yang diajarkan bisa menjelma menjadi beragam acara sesuai dengan kearifan lokal masing-masing daerah, dengan catatan tetap mengindahkan norma-norma Islam yang sudah ditentukan. Maka tidak boleh tercampuri kemaksiatan apa pun dalam implementasinya. Setelah manusia berbuat baik kepada Allah dengan berpuasa sebulan penuh; mengabdikan diri kepada-Nya. Maka pada momen Idul Fitri dan Halalbihalal, giliran mereka meneguhkan kesadaran persaudaraan antar sesama dengan saling memafkan dan berbagi keceriaan. Aktivitas ini sangat indah sebagaimana diisyaratkan surat al-Hajj ayat 77, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan supaya kamu mendapat kemenangan." Dan surat al-A'raf ayat 199, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Maka, Halalbihalal meskipun asli kelahiran Indonesia, namun esensinya tetap Islami.Wallahua’lam bish-shawab.
Baca selanjutnya ..Rabu, 05 September 2012
Undangan Halalbihalal
Undangam Temu Warga Perumahan Griya Citra Asri, RT.06 RW.01 Kelurahan Beringin – Sambikerep Surabaya, Kepada : Bapak / Ibu / Segenap Warga RT06 / RW 1, Assalamu'alaikum Wr. Wb, Rasa syukur mari kita haturkan kehadirat Allah SWT atas berbagai nikmat yang di limpahkan kepada kita semua, Salah satunya adalah kesempatan bersilaturrahmi. Oleh sebab itu sebagai sarana agar kita semua bisa berjabat-tangan dan saling Ber Ma’afan atas kesalahan yang telah berlalu, dengan ini kami mengundang Segenap warga untuk menghadiri acara Silaturrahim dan Halalbihalal. Yang Insya Allah akan di adakan pada, Hari : Sabtu Tanggal : 08 September 2012 Waktu : 19.30 Acara : Temu Warga dan Silaturrahim Tempat : Gang Tengah Depan RM 30-RM 31 Demikian undangan ini kami haturkan, Taqobalallahu minna waminkum Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pahala disetiap langkah menuju Majelis yang di Rahmati Allah SWT, Amin ya Robbal Alamin. Jazakumullah Khoiron Katsiiro Wassalamu'alaikum Wr. Wb Hormat kami, Administrator RT Darmanto
Baca selanjutnya ..Minggu, 02 September 2012
BAHAN RENUNGAN
RAMADHAN tahun ini baru saja berlalu. Hari-hari di bulan Syawal sedang kita lalui. Sungguh beruntung orang-orang mukmin yang hari-harinya bersama Ramadhan. Ia merasakan dekapan Ramadhan dalam malam-malam yang penuh kesyahduan. Larut dalam untaian tilawah Alquran, berdzikir dalam khusyuknya salat malam. Kegersangan spritual ia isi dengan sungguh dalam beribadah sebagai tanda keinsafan. Ada sebuah kesadaran yang mencuat dari lubuk hati yang dalam, bahwa tidak ada jaminan untuk bersua dengan Ramadhan tahun depan. Jujur saja. Banyak perubahan yang dirasakan oleh kita selama bulan Ramadhan. Tiba-tiba secara pribadi tingkat kesolehan kita meningkat. Berbagai bentuk ibadah, seperti shalat malam (tarawih), tilawah Al-Quran, sedekah, dan mendatangi masjid atau mushalla begitu mudah untuk dilakukan. Ucapan dan tutur kata dijaga. Sikap malu untuk berbuat maksiat begitu terasa. Namun, pertanyaan menyeruak kepermukaan. Apakah ini tanda keinsafan kita atau malah menegaskan sikap kita yang aji mumpung? Di mana segala sesuatu diukur dari aji mumpung dan memanfaatkan apa yang sedang ada di depan mata. Bagi pedagang, Ramadhan adalah lembaran uang dari kepentingan bisnis dan ekonomi. Bagi pejabat, Ramadhan adalah ajang publikasi diri dan tebar pesona dengan balutan aneka bantuan untuk yang miskin. Bagi yang miskin, Ramadhan menggiatkan diri untuk meminta-minta belas kasihan kepada sang pemberi. Dan, Ramadhan hanya dijadikan singgah pertobatan yang menutup segala kemunafikan diri. Masihkah Ramadhan dengan nilai-nilai keutamaannya bersama kita? Pertanyaan ini sederhana, namun butuh tanggung jawab besar. Untuk itu, mari kita renungi apa apa yang sudah kita lakukan selepas Romadhon kita lihat di sekeliling kita Musholla sudah mulai di tinggalkan,Masjid terdekatpun berada dalam penantian imam dan jama’ah Mari kita renungkan dan telaah diri,sudahkah Romadhon tetap menginspirasi kita dalam ibadah se hari-hari. Semoga kita masih di beri kesempatan menikmati Romadhon selanjutnya,Amiiin
Baca selanjutnya ..Senin, 27 Agustus 2012
MENJALANI PROSES
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah SWT yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah Allah SWT. Perkara rejeki sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena Allah SWT Maha Tahu kebutuhan kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh harta yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani. Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siapa pun, bahwa yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses. kata Imam Ali, "Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya". Kalau hanya ingin cari uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya uang. Bagi kita bekerja adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita bekerja dan berdoa supaya tambah luas kemungkinan dapat rejeki hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya.. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa bershodaqoh untuk mensejahterakan orang yang membutuhkan. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya. Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara banyak harta. Hal ini karena ketika masih miskin akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika banyak harta sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat. Oleh sebab itu, marilah kita menikmati proses sebab kalau kita ikhlas menjalani proses itu, insya Allah tidak akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan. Wallahu a'lam bish-shawab
Baca selanjutnya ..Minggu, 26 Agustus 2012
SERUAN ADZAN
Seorang shahabat nabi yang punya gangguan pada penglihatan, suatu saat menghadap beliau untuk minta izin keringanan tidak menghadiri shalat berjama’ah disamping rumahnya yang cukup jauh dari masjid, juga karena tidak ada teman yang menuntun jalannya, hal mana sangat berat baginya terutama waktu malam dan jalan becek sehabis hujan. Nabi untuk sementara mengizinkannya, tetapi ketika shahabat tadi berbalik hendak pulang, nabi memanggilnya kembali sambil bertanya “ Apakah kamu bisa mendengar seruan adzan (dari rumahmu)? “. “ Bisa “ jawabnya. Nabi melanjutkan “ Kalau demikian, kamu harus datang berjamaah “. Hadist ini menjadi landasan sebagian ulama untuk mewajibkan shalat berjamaa’h bagi yang mendengar seruan, terlebih ada hadist lain yang menyatakan bahwa tidak dianggap sah shalat seseorang yang rumahnya dekat masjid kecuali bila ia shalat di masjid. Dikisahkan pula bahwa nabi pernah mengancam akan membakar rumah orang-orang yang enggan datang berjama’ah, Sebagian pensyarah hadist menyatakan bahwa ancaman dengan hukuman menunjukkan atas kewajiban yang disia-siakan, seandainya berjama’ah tidak wajib tentu nabi tidak perlu mengancam membakar rumah segala. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa berjama’ah memang hukumnya wajib, namun wajib kifayah, kalau sudah ada yang mewakili datang ke masjid, meski itu hanya imam dan mu’adzin, sudah gugurlah kewajiban berjama’ah, persis shalat janazah. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa shalat berjama’ah hanya sunnah muakkadah, sunnah yang dianjurkan, sayang kalau ditinggalkan karena banyak keutamaannya. Hadist nabi diatas yang menyatakan kewajiban berjama’ah bagi yang mendengar seruan, dita’wilkan sebagai seruan shalat Jum’ah bukan shalat berjama’ah. Jadi yang wajib dihadiri adalah seruan adzan Jum’ah, bukan adzan shalat lima waktu, sesuai dengan firman Allah dalam al-Jumu’ah “Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian diseru untuk shalat pada hari Jum’at hendaknya bersegera menuju dzikrullah (shalat) serta tinggalkanlah (kesibukan) perniagaan, jual beli “. Begitulah beberapa pendapat ulama fiqih. Perbedaan yang kita sikapi dengan wajar, sambil menelaah kekuatan hujjah masing-masing, mana yang terbukti paling kuat (arjah) maka pendapat itulah yang mestinya kita pilih. Sayangnya sebagian besar umat salah dalam mensikapi masalah ini, mereka tidak mencari mana yang lebih kuat dan utama, tetapi mencari celah-celah kemudahan dan keringanan yang mendukung kemalasannya. Mereka memahami bahwa pada prinsipnya shalat berjama’ah di masjid tidak wajib, kalau toh kita shalat sendirian di rumah masing-masing ataupun di kantor, itu pun sudah sah. Akhirnya mereka enggan ke masjid, yang masih mending, dalam sehari berjama’ah satu kali waktu maghrib saja. Sebagian lagi hanya ke masjid sekali seminggu, yakni shalat jumat, yang lebih banyak malah hanya ke masjid/lapangan setahun sekali atau dua kali saat I’ed, dengan kata lain terbiasa tidak shalat sehari-harinya. Mungkin akan lebih bijak bila pendekatan kita tidak semata-mata dari aspek hukum fiqih, tetapi pendekatan yang komprehensif dan integratif. Nabi seumur hidupnya selalu menghadiri jama’ah, bahkan saat sakit keras menjelang wafat beliau masih mementingkan menghadiri jama’ah. Dalam kondisi perang pun ditekankan untuk shalat berjama’ah (shalat khauf), kecuali kalau peperangan sedang berkecamuk, maka kita dipersilahkan untuk shalat sambil berperang. Al-Qur’an memerintahkan agar kita rukuk beserta orang-orang yang rukuk artinya shalat berjama’ah. Mereka yang tidak datang berjama’ah pada zaman nabi ditengarai sebagai orang-orang munafiq, terutama saat shalat Isya’ dan Shubuh, dua shalat yang paling berat atas orang-orang munafiq. Tidak menghadiri jama’ah pada zaman nabi juga dianggap sebagai pelecehan atas kepemimpinan beliau, sehingga beliau sering mempertanyakan dan mengabsen beberapa sahabat yang tidak hadir berjama’ah tanpa berita. Keutamaan berjamaah, kita semua mafhum bahwa pahala berjama’ah 27 kali lipat dibanding sendirian, berjalan ke masjid dianggap bagian dari ibadah, setiap langkah menggugurkan dosa dan mengangkat derajat, karena itu nabi tidak mengabulkan permintaan bani salmah yang ingin bedol desa mendekati masjid nabawi. Salah satu tanda jaminan keimanan seseorang adalah manakala ia terbiasa akrab dengan masjid, seorang yang hatinya terikat dengan masjid kelak pada hari kiamat akan mendapat naungan Allah bersama-sama enam golongan lainnya. Belum lagi manfaat sosial yang tidak terhingga dari berjama’ah, seperti persaudaran, silaturrahim, ta’aruf dan ta’awun, ajaran persamaan, berlomba dalam kebaikan, memadukan kekuatan ummat, pelajaran kepemimpinan dan masih banyak lagi. Akhirnya mari kita cermati, apa arti panggilan adzan?. Bukankah itu panggilan menuju kejayaan dan kemenangan “ Hayya ‘alal falah “ mari meraih kemenangan !, kalau kita enggan memenuhi panggilan adzan dengan berjama’ah ke masjid, tampaknya kejayaan dan kemenangan bagi ummat ini masih jauh, lantas apakah kita lebih suka menjadi pecundang?, tentunya tidak. Semoga Tuhan melimpahkan taufiq kepada kita semua. Amien.
Baca selanjutnya ..